Ikram menarik koper besarnya keluar dari pintu kedatangan internasional sambil melirik ke kiri dan kanan mencari seseorang. Pihak agen travel itu mengatakan bahwa mereka akan mengirimkan seseorang ke bandara untuk menjemputnya. Ada banyak sekali pengunjung bandara yang juga sedang menantikan kedatangan keluarga mereka di depan pintu kedatangan. Beberapa orang terlihat mengangkat sebuah kertas yang bertuliskan nama keluarga mereka. Ikram mencoba mencari-cari namanya di antara kertas-kertas yang diangkat oleh orang-orang tersebut, dan…ketemu! Matanya melihat sebuah kertas yang diangkat tinggi-tinggi yang bertuliskan namanya, ‘Mr. Ikram Ibrahim’. Pandangan mata Ikram pun turun dan mendapati sesosok gadis bertubuh mungil tampak fokus memandang ke arah pintu kedatangan. Untuk sedetik Ikram terpana saat melihat gadis itu. Dia kemudian memutuskan untuk melangkah mendekati gadis itu dan menyapanya.
“Hey.”
Si gadis menoleh dan menatapnya dengan tatapan bingung. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Beberapa saat kemudian dia tampak menyadari sesuatu, “Apakah Anda Mister Ikram?” Tanyanya untuk memastikan. Gadis itu berbicara dengan Bahasa Inggris yang cukup fasih.
“Ya, itu saya.” Balas Ikram sambil tersenyum ramah. Diam-diam dia memperhatikan penampilan gadis di depannya. Gadis itu memiliki dua pipi chubby yang berwarna kemerahan secara alami. Wajahnya tampak seperti anak yang berumur dua belas tahun. Jangan bilang kalau anak kecil ini yang akan menjadi pemandu wisata Ikram di sini. Lagi-lagi Ikram diam-diam memperhatikan gadis yang memakai hijab berwarna navy ini. Dia juga memakai baju berbahan kaus berwarna putih dan sebuah rok panjang berbahan jins. Tidak lupa memakai sepasang sepatu sneakers berwarna putih dan sebuah ransel hitam yang tersampir di punggungnya. Tampaknya gadis itu adalah tipe gadis yang tidak terlalu memperhatikan pakaiannya asalkan nyaman dan rapi. Secara keseluruhan gadis itu tampak mengeluarkan aura tomboy. Berbanding terbalik dengan Aara yang selalu tampak lembut dan feminim.
Aara. Nama itu lagi.
“Nama saya Salma. Selamat datang di Kota Padang.” Suara gadis di depannya membuyarkan lamunan Ikram. “Saya akan menjadi tour-guide Anda selama Anda berada di Sumatera Barat. Sebentar, saya akan mencari supir saya untuk meminta bantuan untuk mengangkat barang Anda.” Ujar gadis yang bernama Salma itu.
Ikram menganggukkan kepalanya dan tubuh Salma yang kecil kemudian dengan lincah menghilang di tengah-tengah keramaian.
Ikram melirik sekelilingnya dan kemudian baru menyadari beberapa orang menatap ke arahnya dengan terang-terangan. Mungkin tubuhnya yang tinggi dan wajah Eropa-nya yang berbeda dengan warga lokal membuatnya cukup menarik perhatian orang sekelilingnya. Ikram kemudian mengambil sebuah masker penutup wajah dari dalam tas ranselnya dan memakainya sambil menunggu kedatangan Salma.
***
“Bagaimana penerbangan Anda dari Kuala Lumpur? Penerbangannya sangat singkat, bukan?” tanya Salma saat mereka akhirnya sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan meninggalkan bandara. Salma duduk di kursi depan di samping supir mobil. Sementara Ikram duduk di kursi penumpang.
“Iya.” Balas Ikram singkat.
“Ini namanya Pak Evan.” Salma menoleh ke arah Ikram sambil memperkenalkan pria paruh baya yang sedang menyetir mobil mereka.
“Halo, Mister Ikram. Saya akan menjadi supir Anda selama Anda berada di sini.” Pria bernama Evan itu memperkenalkan dirinya dengan ramah pada Ikram.
“Terima kasih.” Balas Ikram sambil tersenyum saat pandangannya bertemu dengan Pak Evan di kaca spion mobil.
“Sekarang sudah pukul sebelas. Kita akan ke pusat kota untuk makan siang dan kemudian shalat dzuhur di masjid. Sekarang Anda boleh beristirahat. Saya akan membangunkan Anda nanti kalau kita sudah sampai.” Ujar Salma sambil melirik jam tangannya.
Ikram menganggukkan kepalanya. Dia kemudian mencoba untuk merilekskan punggungnya. Mobil ini tidak sebesar mobilnya di Jerman. Ukurannya agak sempit untuk kakinya yang panjang. Tapi Ikram tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena mobil ber-AC ini sangat nyaman dan bersih untuk dinaiki. Tiba-tiba saja kantuk menyerang Ikram dan perlahan kedua matanya terpejam. Tidak lama kemudian dia sudah terlelap dalam tidurnya.
***
“Di tempat biasa aja, Om. Soalnya…”
Ikram terbangun saat kedua telinganya samar-samar mendengar percakapan antara Salma dan Pak Evan. Dia tidak tahu sudah berapa lama tertidur. Perjalanan dari bandara ke pusat kota ternyata lebih lama daripada yang dia bayangkan.
“Oh, rupanya Anda sudah bangun. Kita akan segera sampai di rumah makan.” Ujar Salma saat menyadari Ikram sudah bangun dari tidurnya.
Ikram menganggukkan kepalanya. “Tampaknya di luar panas sekali.” Ujarnya saat melirik ke arah luar jendela. Matahari tampak bersinar terik di luar. Berbeda sekali dengan keadaan di negara asalnya sekarang yang sedang tertutup salju di mana-mana.
Salma terkekeh pelan. “Kota Padang memang termasuk kota yang memiliki udara panas karena terletak di tepi laut. Tapi jangan khawatir, kita tidak akan lama di sini. Saya akan membawa Anda untuk mengunjungi kota yang sejuk. Nah, sekarang kita sudah sampai.” Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan pintu rumah makan. Ikram yang membawa kameranya kemudian menyusuli Salma yang sudah turun dari mobil duluan. Kemudian mobil itu berjalan karena Pak Evan hendak mencari tempat parkir untuk mobil mereka.
Ramai sekali. Itulah yang Ikram pikirkan saat pertama kali masuk ke dalam rumah makan yang sangat luas itu. Suara pengunjung rumah makan yang saling bercengkerama terdengar seperti dengungan lebah di telinganya. Ditambah lagi dengan bunyi pirinh dan peralatan makan lainnya yang saling beradu.
Seolah bisa membaca pikiran Ikram, Salma berkata, “sekarang sedang jam makan siang. Jadi tidak heran kalau rumah makan ini sangat ramai dikunjungi. Ditambah lagi rumah makan ini sangat terkenal di antara rumah makan yang lain. Para pengunjung dari bandara biasanya mampir ke sini. Tapi jangan khawatir, saya sudah memesankan sebuah tempat untuk Anda.”
Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka di dalam restoran tersebut kemudian membawa Ikram dan Salma ke sebuah tempat yang agak jauh dari keramaian. Tepatnya ke sebuah ruangan ber-AC. Sepertinya ruangan ini dikhususkan untuk tamu VIP. Setelah mengantarkan mereka, si pelayan kemudian meninggalkan ruangan tersebut. Ikram tidak langsung duduk di kursinya tapi dia memandang sekelilingnya. Rasanya sangat membosankan sekali kalau makan di sini.
“Apakah Anda tidak menyukai tempatnya?” Tanya Salma yang tampak memperhatikan tingkah laku Ikram tersebut.
“Oh, tidak. Tempat ini sangat nyaman. Hanya saja, aku berpikir untuk mencoba makan di tempat yang sama seperti pengunjung lain.”
Salma mengangkat kedua alisnya. Tampak heran dengan perkataan Ikram barusan, “Apakah Anda tidak apa-apa dengan keramaian?” tanyanya untuk memastikan.
Ikram menganggukkan kepalanya dengan pasti. Dia tersenyum lebar. “Tidak apa-apa. Sungguh. Aku sudah jauh-jauh datang ke sini dan aku tidak ingin melewatkan momen untuk merasakan dan menikmati kehidupan seperti warga lokal.”
Salma balas tersenyum. “Kalau begitu baiklah. Silahkan berjalan duluan. Anda bisa memberitahu saya di mana tempat yang nyaman bagi Anda untuk makan.”
Ikram kemudian berjalan keluar dari ruangan duluan. Dia kemudian menoleh, mencoba mencari-cari tempat yang kira-kira nyaman baginya untuk makan. “Di sini saja.” Pilihannya jatuh pada sebuah tempat makan lesehan di sebuah saung yang baru ditinggalkan oleh beberapa pengunjung. Salma kemudian memanggil seorang pelayan dan memintanya untuk membersihkan tempat itu, karena masih ada piring-piring dan gelas milik pengunjung sebelumnya. “Kak, tolong bersihkan tempatnya sebersih-bersihnya ya. Saya gak mau nanti tamu saya merasa gak nyaman kalau tempatnya gak bersih.” Ujar Salma pada si pelayan. Ikram yang tidak memahami bahasa yang diucapkan oleh Salma hanya memperhatikan interaksi dua orang di depannya.
“Anda harus menunggu sebentar karena tempat ini harus dibersihkan dulu.”” Ujar Salma.
“Baiklah, tidak masalah.” Ujar Ikram sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian si pelayan sudah selesai membersihkan tempat itu. Ikram mengambil posisi yang nyaman untuknya sambil menyandarkan punggungnya. Kedua kakinya dia luruskan di bawah meja. Bagi orang-orang di sana, Ikram tampak seperti raksasa, kedua kakinya bahkan sangat panjang hingga melewati meja. Sementara Salma mengambil posisi agak jauh dari Ikram. Pak Evan yang baru saja tiba, memilih duduk di meja yang berbeda dengan mereka berdua.
Tidak lama kemudian, beberapa pelayan datang untuk mengantarkan hidangan. Pertama-tama, mereka meletakkan tiga buah piring makan dan semangkuk besar nasi putih. Kemudian, mereka mulai menghidangkan satu persatu lauk pauk khas rumah makan Padang yang ditata rapi di piring keramik putih berukuran kecil. Ikram hanya bisa terpana melihat betapa banyaknya hidangan yang ada di atas meja makan sekarang.
“Apakah kita akan menghabiskan seluruh hidangan ini?” Tanyanya pada Salma ketika para pelayan sudah selesai menghidangkan berbagai macam lauk pauk tersebut.
Salma tersenyum lebar dan menggeleng. “Tidak, tentu saja tidak. Anda bisa memilih makanan pendampingmana yang ingin Anda nikmati bersama dengan nasi putih. Kita hanya akan membayar untuk apa yang kita ambil.”
“Oh begitu. Aku kira kita harus menghabiskan semuanya. Ini banyak sekali. Apa nama makanannya? Dan bagaimana cara memakannya?” Tanya Ikram lagi. Dia masih cukup terpana dengan betapa banyaknya makanan di atas meja ini sekarang.
“Ini namanya Nasi Padang. Hidangan yang paling terkenal di seluruh Indonesia bahkan hingga mancanegara. Saya akan menunjukkan cara memakannya pada Anda. Sebentar.” Salma mengambil piring milik Ikram. Gadis itu menuangkan sedikit air minum dari teko, kemudian menggoyang-goyangkan piring itu sehingga air membasahi seluruh permukaan piring. Setelah selesai, Salma membuang air tersebut di mangkuk kecil untuk mencuci tangan miliknya. Dia kemudian mengambil tisu dan mengeringkan piring Ikram sebelum akhirnya menyendok nasi dari mangkuk besar itu. Gadis itu melakukan hal yang sama pada piringnya.
Ikram mengangkat kedua alisnya saat dia melihat tingkah laku Salma yang terbilang aneh menurutnya. Tapi dia memutuskan untuk tidak bertanya.
“Yang ini ayam bakar, yang ini ayam balado yang dimasak dengan banyak cabe. Rasanya pedas. Yang ini ayam gulai dan ayam bumbu. Kemudian ada ikan, rendang…” Dengan sabar Salma menjelaskan satu persatu lauk pauk di hadapan mereka pada Ikram.
“Anda bisa memilih makanan manapun yang Anda inginkan.” Ujar Salma setelah selesai menjelaskan semuanya.
Ikram memperhatikan makanan di depannya satu persatu. Dia sungguh bingung ingin memilih yang mana. Tatapannya kemudian jatuh pada hidangan berwarna hitam yang agak terlihat aneh baginya. “Apa nama hidangan ini tadi?” Tanyanya pada Salma.
Gadis itu melirik ke arah piring yang ditunjuk oleh Ikram. “Oh, ini namanya rendang. Makanan terlezat nomor satu di dunia yang masuk dalam daftar UNESCO. Ini adalah rendang daging. Rendang berbahan dasar santan, cabe, dan rempah-rempah lainnya yang dimasak dalam waktu yang lama. Semakin kering rendang, semakin tahan lama untuk disimpan. Sebentar.” Salma mengambil dua buah sendok di sebelahnya dan mulai mengelapnya dengan tisu yang baru diambilnya, kemudian dia meletakkan satu sendok di piring rendang dan sendok yang lainnya di piring Ikram.
Ikram kemudian menyendok rendang itu dengan hati-hati dan meletakkannya di atas nasinya. Setelah membaca basmalah, dia segera menyendok nasi beserta bumbu rendangnya. Ketika mengunyah pertama kali, dia merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Rasa rendang itu terasa pedas di lidahnya, namun semakin dia mengunyah semakin dia bisa merasakan rempah-rempah yang menyatu di lidahnya. Rasanya lezat sekali dan membuatnya ketagihan. Dia terus memakannya hingga keringat bercucuran di dahi dan pelipisnya karena kepedasan. Pak Evan yang melihatnya sampai tertawa kecil.
Salma sendiri makan dengan lauk ayam bakar dan sayur tauge. Dia makan dengan perlahan sambil sesekali menjawab pertanyaan dari Ikram.
Mereka menyudahi acara makan siang dengan Ikram yang selesai menyeruput jus alpukat yang baru pertama kali dicobanya seumur hidupnya. Setelah dari rumah makan, mereka kemudian pergi ke masjid untuk menunaikan shalat zuhur.
***
“Apakah kita sudah sampai?” Tanya Ikram saat dia menyadari mobil mereka berhenti di depan jejeran toko-toko yang menjual oleh-oleh makanan dan souvenir.
“Belum. Masih ada satu setengah jam lagi sebelum kita sampai ke tempat tujuan kita. Tapi sekarang saya ingin membawa Anda untuk mengunjungi salah satu objek paling terkenal di Sumatera Barat. Yaitu air terjun Lembah Anai.” Balas Salma sambil melepas safety belt-nya dan turun dari mobil.
Ikram menoleh ke kiri dan ke kanan mencoba mencari-cari air terjun yang dimaksud oleh Salma. Dia kemudian mengambil kameranya dan ikut turun dari mobil. Ikram menyusul Salma yang tampak tengah membeli tiket di loket. Sementara Pak Evan memilih untuk menunggu di mobil.
“Ayo.” Ajak Salma pada Ikram setelah dia selesai membayar tiket masuk. Mereka kemudian menaiki beberapa anak tangga yang menuju ke arah air terjun.
“Wow.” Ujar Ikram sesaat setelah mereka sampai di dekat air terjun. Dia tidak bisa menahan kekagumannya saat melihat air terjun setinggi 35 meter itu jatuh dengan deras ke bawah. Segera saja dia mengabadikan momen itu dengan kameranya.
“Saya akan mengambil gambar Anda di sini.” Salma meminta kamera Ikram yang langsung diberikan olehnya pada gadis itu. Sejenak gadis itu tampak mengutak-ngatik kamera tipe DSLR itu dan segera meminta Ikram untuk memposisikan dirinya dengan baik. Ikram cukup kagum melihat bagaimana gadis itu bisa menggunakan kamera miliknya dengan baik. Setelah selesai mengambil foto, Ikram perlahan turun dan berjalan di atas bebatuan.
“Hati-hati. Batu-batunya licin.” Salma memperingatkannya.
Ikram hanya mengangguk. Dia kemudian berjongkok di atas salah satu batu dan menyentuh air yang berada di kolam tempat air terjun itu berkumpul. Kolamnya tidak dalam. Airnya sangat jernih dan saat Ikram memasukkan tangannya ke dalam airnya, dia bisa merasakan airnya sangat dingin. Salma memperhatikan sekelilingnya sambil menunggu Ikram yang tengah bermain-main dengan air terjun. Setelah dirasa cukup, mereka berdua kemudian kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan ke Kota Bukittinggi.
Menjelang maghrib barulah mereka sampai di hotel tempat Ikram akan menginap. Dia akan menginap di salah satu hotel berbintang 4 di Bukittinggi.
Seperti biasa Salma segera bergerak dengan cepat dan turun dari mobil. Ikram menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir bagaimana mungkin badan semungil itu bisa bergerak dengan sangat lincah dan gesit. Salma meminta seorang bell boy untuk menurunkan koper besar milik Ikram dari bagasi mobil. Ikram menyusuli Salma yang telah berada di resepsionis untuk check in dan mengambil kunci kamar. Dia baru merasakan jet lag setelah beberapa saat hanya berdiri terdiam menunggu Salma yang tengah berbicara dengan petugas hotel. Mungkin seharian ini dia sangat menikmati tour-nya sehingga dia tidak merasa lelah sama sekali. Setelah berdiam seperti ini barulah Ikram merasakan lelah dan kantuk mulai menyerangnya. Rasanya dia ingin cepat-cepat mandi dengan air panas dan mengistirahatkan tubuhnya.
“Ini kunci kamar Anda. Saya sudah memesankan kamar yang pemandangannya langsung menghadap ke kota.” Ujar Salma sambil menyerahkan key card pada Ikram.
“Terima kasih.” Ujar Ikram sambil menerima kunci tersebut dan tersenyum.
Salma menganggukkan kepalanya. “Sama-sama. Selamat beristirahat, Tuan Ikram. Saya juga minta maaf. Seharusnya ayah saya lah yang akan menjadi tour guide Anda. Tapi sayang sekali karena beliau saat ini sedang melakukan tour bersama rombongan turis lain di Dubai. Besok pukul 8 pagi setelah sarapan saya akan datang lagi ke sini. Kita akan melakukan tour singkat di dalam kota.”
Ikram tersenyum. “Baiklah, Salma. Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini. Selamat malam.” Dia kemudian berjalan ke arah lift yang akan membawanya ke lantai tempat kamarnya berada.
Hari ini melelahkan sekali baginya. Tapi dia sangat menikmati pengalaman barunya.
Bersambung.





No comments:
Post a Comment