Waktu menunjukkan pukul empat
sore ketika Salma dan Ikram akhirnya kembali ke pelataran Jam Gadang. Matahari
sore bersinar dengan cerah. Para pengunjung semakin memadati Jam Gadang. Ada
yang sibuk menikmati jajanan dan ada pula yang hanya sekedar duduk-duduk dan
bercengkerama bersama teman dan keluarga mereka sambil menikmati penampilan
dari band jalanan yang memang biasa tampil di area sana.
Ikram pikir ketika Salma mengatakan akan mentraktirnya
sesuatu, gadis itu akan membawanya ke sebuah restoran. Namun dugaannya salah.
Sebaliknya gadis itu membawanya pada seorang pedagang makanan yang Ikram
sendiri tidak tahu jenis makanan apa yang dijual oleh pedagang wanita tersebut.
Tanpa ragu-ragu Salma jongkok di depan si pedagang. Sementara Ikram memilih
tetap berdiri di samping Salma.
“Bu, beli kerupuk kuah mienya dua ya.”
Ikram mendengar Salma tengah berbicara dengan bahasa
setempat. Kemudian dia melihat si pedagang mengangguk dan mengeluarkan
sebuah…entahlah, Ikram tidak tahu bagaimana menyebut makanan itu. Tampak
seperti doritos versi jumbo. Yang jelas pedagang itu tampak mengoleskan semacam
saus berwarna kuning di atas doritos itu kemudian menambahkan mie berwarna
kuning di atasnya. Dia kemudian menyodorkan makanan itu pada Salma. Si pedagang
kemudian melakukan hal yang sama sekali lagi. Namun kali ini dia menyodorkannya
pada Ikram yang diterima Ikram dengan raut wajah bingung.
Setelah membayar belanjaannya Salma kemudian berdiri.
“Kita harus segera mencari tempat duduk. Tapi kau harus
melakukan ini dulu.” Salma memeragakan tangannya melayang di atas makanannya seolah
memayungi makanan itu.
“Untuk apa?” Tanya Ikram tidak paham.
“Supaya debunya tidak melekat pada makanan kita. Tidak
bekerja dengan baik, tapi setidaknya meminimalisir debu pada makanan sampai
kita mendapatkan tempat untuk duduk.” Salma terbahak dengan perkataannya
sendiri. Membuat Ikram mau tidak mau ikut tertawa melihat gadis itu. Dia
menuruti saran Salma dan mulai melangkah mengikuti gadis itu untuk mencari
tempat duduk.
Mereka kemudian memutuskan untuk duduk di bawah sebuah
pohon yang menghadap langsung ke arah Jam Gadang.
“Apa nama makanan ini?” Tanya Ikram.
“Namanya kerupuk mie kuah sate.”
“Kurupuk mie kueh sate?”
Salma terkikik ketika mendengar Ikram berusaha
mengucapkan nama makanan yang ada di tangannya dengan logat bulenya.
“Kerupuk kuah mie. Kerupuk itu yang menjadi alas kuah dan
mienya. Kuahnya adalah saus berwarna kuning ini yang dioleskan pada kerupuk.
Sementara mie berarti noodle. Ayo dicoba. Kau pasti akan takjub dengan
rasanya.”
Ikram yang sedari tadi mencium aroma sedap dari makanan
yang ada di tangannya ini dengan perlahan mulai menggigit kerupuknya. Bunyi kriuk
terdengar dari gigitannya. Sensasi dari rasa kerupuk yang renyah berpadu dengan
rasa kuah yang kaya rasa serta tekstur mie yang kenyal memberikan rasa baru
yang belum pernah Ikram cicipi seumur hidupnya.
“Wallah, ini enak sekali. Sungguh.” Ujar Ikram
dengan nada takjub. Seumur hidup, terlahir sebagai anak dari keluarga yang
kaya, Ikram tidak pernah tau rasanya jajanan di kaki lima bisa seenak ini.
Meski setiap kali keluarganya kembali ke Maroko dan menemukan banyak sekali
pedagang makanan kaki lima, mereka tidak pernah membelinya dari sana. Bukannya
merasa jijik, hanya saja mereka sekelurga memiliki asisten rumah tangga yang
akan memasak di rumah.
“Syukurlah kalau kau menyukainya. Tadinya aku takut kau
akan merasa jijik karena sepertinya kau berasal dari keluarga kaya yang tidak
pernah memakan makanan murah seperti ini.” Ujar Salma pelan. Tampak jelas gadis
itu berusaha menjaga ucapannya agar tidak menyinggung perasaan Ikram.
Ikram terkekeh. “Kau pasti salah menilaiku. Aku ini
memiliki jiwa petualang dalam diriku. Hal-hal seperti ini yang membuatku
tertarik untuk mencobanya. Terima kasih, Salma.” Katanya dengan nada tulus.
***
“Kita berpisah di sini saja. Aku masih mengingat jalan
kembali ke hotel. Kau pulanglah duluan. Sudah hampir gelap. Ibumu pasti akan
sangat mengkhawatirkanmu.” Ujar Ikram ketika mereka selesai menikmati makanan
dan duduk sebentar untuk menikmati suasana sore.
“Ibuku tahu kalau aku sedang bekerja. Jadi tidak apa-apa.
Kau yakin bisa kembali ke hotel sendirian?” Tanya Salma meyakinkan.
Ikram mendengus kemudian tertawa pendek. “Aku sudah
dewasa. Kau pikir akan semudah itu untuk tersesat? Jangan khawatir. Aku pasti
akan kembali dengan selamat. Atau kau mau aku mengirimu pesan untuk mengabarkan
bahwa aku sudah sampai di kamarku dan beristirahat dengan tenang?” Katanya
dengan kedua mata yang bersinar jenaka.
Entah perasaannya saja atau memang benar, Ikram sempat
melihat kedua pipi Salma bersemu merah saat mendengar perkataannya barusan.
“Ti-tidak perlu. Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu.
Sampai jumpa.” Ujar Salma. Gadis itu kemudian berbalik dan berjalan memunggungi
Ikram membuatnya tertawa geli melihat tingkah laku gadis itu.
***
Pukul delapan malam, ketika Ikram baru selesai mandi dan
tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya, tiba-tiba saja
ponselnya berdering.
“Ya, Ian?”
“Maaf mengganggu liburanmu, Tuan Ikram. Tapi ada
masalah mendesak yang harus saya sampaikan kepada Anda.”
Ikram melangkah dan duduk di atas sofa yang terletak di
tengah-tengah kamar suite-nya. “Aku mendengarkan.”
“Anda ingat anda pernah melakukan pertemuan dengan sebuah
perusahaan dari Italia, Federico Company beberapa bulan yang lalu?”
“Ya, aku ingat.”
“Direktur perusahaan itu yaitu Luca Federico setuju
untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan kita. Namun dia menolak untuk
melakukan negosiasi dengan Tuan Nabil dan Tuan Fahad. Dia ingin melakukan
negosiasi secara langsung dengan anda. Saya sudah menjelaskan padanya bahwa
anda sedang tidak berada di Jerman. Tapi dia bersikeras akan melakukan meeting
dengan anda secara online.”
Ikram mendesah pelan dan menjawab dengan setengah
terpaksa, “baiklah, pukul berapa dia ingin melakukan meeting denganku?”
“Setengah jam lagi.”
Ikram melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul delapan
waktu Indonesia. Berarti sekarang pukul tiga sore waktu Jerman.
“Baiklah, aku akan bersiap-siap. Akan aku kabari lagi
nanti. Terima kasih, Ian. Sampai jumpa.”
Setelah menutup telepon, Ikram berjalan ke arah meja
kerja di kamar tempat di mana laptopnya berada dam kemudian menyalakannya.
Baiklah,
untuk kali ini dia terpaksa harus mengurusi pekerjaan saat liburan. Hanya
sekali ini saja, besok dia bisa bersantai dan melanjutkan tour-nya.
***
Namun ternyata dugaan Ikram salah. Hari keempat dan
kelima liburannya dia terpaksa harus tinggal di kamar untuk mengurusi
pekerjaannya. Ikram pikir, setelah dia melakukan pertemuan online dengan
Luca dia akan memiliki waktu luang setelahnya. Sayangnya tidak, ada masalah
lain di perusahaan yang memang harus dia sendiri yang menanganinya. Ikram
sangat sangat sibuk dan dia kurang tidur. Dia bahkan harus memesan layanan
kamar untuk makan. Hal buruk lainnya dia terpaksa harus membatalkan rencana
jalan-jalannya dan memberi tahu Salma untuk mengundur rencananya.
Kalau tidak mengingat pekerjaan ini adalah tanggung
jawabnya, rasanya dia ingin melarikan diri saja ke pulau yang tidak berpenghuni
untuk meliburkan dirinya. Tapi mau bagaimana lagi?
Ikram
menatap memijat pangkal hidungnya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut karena
kurang tidur. Dia juga menatap makan siangnya dengan tidak berselera. Bukannya
tidak bersyukur, hanya saja dia mulai bosan dengan makanan hotel. Hanya karena
pegawai hotel tau dia dari Eropa, mereka kemudian menyediakannya menu makanan
ala Barat. Ikram ingin mencicipi makanan lain. Misalnya seperti nasi dan lauk
pauk yang waktu itu dia makan pertama kali.
Nasi
dan lauk pauk.
Ikram
menyeringai dan segera mengambil ponselnya untuk mengetikkan sesuatu.
Tiba-tiba
saja sebuah ide muncul di kepalanya.
***
Salma
menunduk menatap bungkusan di pangkuannya. Aroma nasi bungkus yang tercium
olehnya membuat perutnya terasa keroncongan. Dia mengangkat kepalanya menatap
tamu hotel yang berlalu lalang di lobi.
Setelah Shalat dzuhur, Ikram mengiriminya sebuah pesan di
whatsapp. Setelah dua hari tidak bertemu, laki-laki itu akhirnya
menghubunginya.
Maaf, aku ingin makan nasi dengan ayam bakar yang
waktu itu kita makan, apa kau bisa tolong membelikannya untukku?
Begitu isi pesan dari Ikram. Setelah
mempertimbangkan akan membeli nasi di mana, Salma akhirnya berangkat dan di
sinilah dia sekarang. Ikram bilang mereka akan bertemu di lobi hotel.
Sambil menunggu, tiba-tiba saja Salma teringat pada
Ikram. Kasihan sekali laki-laki itu. Dia datang ke sini untuk liburan tapi
masih sibuk dengan urusan pekerjaannya. Apakah seorang fotografer memang
sesibuk itu?
Di tengah-tengah pikirannya, Salma kemudian tidak sengaja
melihat sosok Ikram yang baru saja keluar dari lift. Laki-laki itu muncul
dengan setelan santai, baju kaus polo berwarna army dan celana panjang berwarna
khaki. Kali ini Ikram menggunakan sebuah kacamata yang membuat wajahnya terlihat
lebih tampan dua kali lipat. Dia tersenyum manis ke arah Salma.
“Maaf membuatmu menunggu lama.” Laki-laki itu berkata
dengan rasa bersalah ketika dia sudah berada di dekat Salma. Dia agak
menundukkan tubuhnya yang tinggi untuk berbicara pada Salma karena saat itu
lobi tengah ramai karena banyak tamu yang baru check in sehingga situasi
agak sedikit rebut dari biasanya.
Salma tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Tidak
apa-apa. Aku juga baru datang ke sini.” Ujarnya. Diam-diam Salma menatap ke
arah Ikram. Dari jarak mereka sekarang, Salma bisa melihat wajah Ikram yang
tampak kelelahan dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Membuat Salma
bertanya-tanya dalam hatinya sesibuk apa pekerjaan seorang fotografer hingga
membuat Ikram tampak keletihan dan kurang tidur. Tapi cepat-cepat dia
menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikirannya. Hubungan mereka hanyalah
sebatas pemandu wisata dan tamu. Salma tidak berhak untuk menanyakan apapun
tentang Ikram. Bukan urusannya.
“Ini pesananmu.” Ujar Salma sambil menyerahkan kantong
plastik bawaannya pada Ikram.
“Terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu. Tapi entah kenapa
aku sangat ingin makan ini sekarang.” Ikram tersenyum manis sambil menerima
kantong plastik itu.
Sontak Salma merasakan jantungnya rasanya nyaris meledak
dan dia cegukan hebat. Satu menit berlalu dan dia masih sibuk menghentikan
cegukannya.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Ikram cemas. Raut wajahnya
tampak benar-benar khawatir pada Salma.
“A-aku baik- hik baik saja hik.” Ujar Salma. Dia
menepuk-nepuk dadanya.
Kedua pipinya terasa panas. Salma yakin kedua pipinya
memerah sekarang. Beberapa saat yang lalu Ikram tersenyum sambil menatap dalam
ke arah matanya. Seolah laki-laki itu benar-benar tengah menatap dan menyelami
dasar hatinya. Selama beberapa hari mengenali Ikram, Salma memang mengetahui
bahwa laki-laki itu memang sangat ramah dan suka tersenyum. Tapi senyuman dan
tatapannya barusan benar-benar berbeda dari biasanya. Rasanya Salma ingin
bersembunyi saja. Dia malu sekali dan dia berarap bahwa Ikram tidak mengetahui
alasan cegukannya ini.
“Aku akan pulang dulu. Selamat menikmati makanannya.”
Ujar Salma akhirnya.
“Kau yakin tidak apa-apa? Apa kau ingin aku mengantarmu?
Aku bisa mengambil taksi untuk pulang nanti.” Ujar Ikram.
“Ah tidak apa-apa. Aku sungguh baik-baik saja. Tadi hanya
sedikit…” Salma bingung bagaimana menjelaskannya, “tadi aku hanya tersedak. Ya
sudah, sampai jumpa.” Dia membalikkan tubuhnya tanpa menunggu jawaban Ikram.
Bersambung.

No comments:
Post a Comment