Monday, 27 June 2022

Enam

 

        Waktu menunjukkan pukul empat sore ketika Salma dan Ikram akhirnya kembali ke pelataran Jam Gadang. Matahari sore bersinar dengan cerah. Para pengunjung semakin memadati Jam Gadang. Ada yang sibuk menikmati jajanan dan ada pula yang hanya sekedar duduk-duduk dan bercengkerama bersama teman dan keluarga mereka sambil menikmati penampilan dari band jalanan yang memang biasa tampil di area sana.

            Ikram pikir ketika Salma mengatakan akan mentraktirnya sesuatu, gadis itu akan membawanya ke sebuah restoran. Namun dugaannya salah. Sebaliknya gadis itu membawanya pada seorang pedagang makanan yang Ikram sendiri tidak tahu jenis makanan apa yang dijual oleh pedagang wanita tersebut. Tanpa ragu-ragu Salma jongkok di depan si pedagang. Sementara Ikram memilih tetap berdiri di samping Salma.

            “Bu, beli kerupuk kuah mienya dua ya.”

            Ikram mendengar Salma tengah berbicara dengan bahasa setempat. Kemudian dia melihat si pedagang mengangguk dan mengeluarkan sebuah…entahlah, Ikram tidak tahu bagaimana menyebut makanan itu. Tampak seperti doritos versi jumbo. Yang jelas pedagang itu tampak mengoleskan semacam saus berwarna kuning di atas doritos itu kemudian menambahkan mie berwarna kuning di atasnya. Dia kemudian menyodorkan makanan itu pada Salma. Si pedagang kemudian melakukan hal yang sama sekali lagi. Namun kali ini dia menyodorkannya pada Ikram yang diterima Ikram dengan raut wajah bingung.

            Setelah membayar belanjaannya Salma kemudian berdiri.    

            “Kita harus segera mencari tempat duduk. Tapi kau harus melakukan ini dulu.” Salma memeragakan tangannya melayang di atas makanannya seolah memayungi makanan itu.

            “Untuk apa?” Tanya Ikram tidak paham.

            “Supaya debunya tidak melekat pada makanan kita. Tidak bekerja dengan baik, tapi setidaknya meminimalisir debu pada makanan sampai kita mendapatkan tempat untuk duduk.” Salma terbahak dengan perkataannya sendiri. Membuat Ikram mau tidak mau ikut tertawa melihat gadis itu. Dia menuruti saran Salma dan mulai melangkah mengikuti gadis itu untuk mencari tempat duduk.

            Mereka kemudian memutuskan untuk duduk di bawah sebuah pohon yang menghadap langsung ke arah Jam Gadang.

            “Apa nama makanan ini?” Tanya Ikram.




            “Namanya kerupuk mie kuah sate.”

            “Kurupuk mie kueh sate?”

            Salma terkikik ketika mendengar Ikram berusaha mengucapkan nama makanan yang ada di tangannya dengan logat bulenya.

            “Kerupuk kuah mie. Kerupuk itu yang menjadi alas kuah dan mienya. Kuahnya adalah saus berwarna kuning ini yang dioleskan pada kerupuk. Sementara mie berarti noodle. Ayo dicoba. Kau pasti akan takjub dengan rasanya.”

            Ikram yang sedari tadi mencium aroma sedap dari makanan yang ada di tangannya ini dengan perlahan mulai menggigit kerupuknya. Bunyi kriuk terdengar dari gigitannya. Sensasi dari rasa kerupuk yang renyah berpadu dengan rasa kuah yang kaya rasa serta tekstur mie yang kenyal memberikan rasa baru yang belum pernah Ikram cicipi seumur hidupnya.

            “Wallah, ini enak sekali. Sungguh.” Ujar Ikram dengan nada takjub. Seumur hidup, terlahir sebagai anak dari keluarga yang kaya, Ikram tidak pernah tau rasanya jajanan di kaki lima bisa seenak ini. Meski setiap kali keluarganya kembali ke Maroko dan menemukan banyak sekali pedagang makanan kaki lima, mereka tidak pernah membelinya dari sana. Bukannya merasa jijik, hanya saja mereka sekelurga memiliki asisten rumah tangga yang akan memasak di rumah.

            “Syukurlah kalau kau menyukainya. Tadinya aku takut kau akan merasa jijik karena sepertinya kau berasal dari keluarga kaya yang tidak pernah memakan makanan murah seperti ini.” Ujar Salma pelan. Tampak jelas gadis itu berusaha menjaga ucapannya agar tidak menyinggung perasaan Ikram.

            Ikram terkekeh. “Kau pasti salah menilaiku. Aku ini memiliki jiwa petualang dalam diriku. Hal-hal seperti ini yang membuatku tertarik untuk mencobanya. Terima kasih, Salma.” Katanya dengan nada tulus.

***

            “Kita berpisah di sini saja. Aku masih mengingat jalan kembali ke hotel. Kau pulanglah duluan. Sudah hampir gelap. Ibumu pasti akan sangat mengkhawatirkanmu.” Ujar Ikram ketika mereka selesai menikmati makanan dan duduk sebentar untuk menikmati suasana sore.

            “Ibuku tahu kalau aku sedang bekerja. Jadi tidak apa-apa. Kau yakin bisa kembali ke hotel sendirian?” Tanya Salma meyakinkan.

            Ikram mendengus kemudian tertawa pendek. “Aku sudah dewasa. Kau pikir akan semudah itu untuk tersesat? Jangan khawatir. Aku pasti akan kembali dengan selamat. Atau kau mau aku mengirimu pesan untuk mengabarkan bahwa aku sudah sampai di kamarku dan beristirahat dengan tenang?” Katanya dengan kedua mata yang bersinar jenaka.

            Entah perasaannya saja atau memang benar, Ikram sempat melihat kedua pipi Salma bersemu merah saat mendengar perkataannya barusan.

            “Ti-tidak perlu. Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa.” Ujar Salma. Gadis itu kemudian berbalik dan berjalan memunggungi Ikram membuatnya tertawa geli melihat tingkah laku gadis itu.

***

            Pukul delapan malam, ketika Ikram baru selesai mandi dan tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya, tiba-tiba saja ponselnya berdering.

            “Ya, Ian?”

            “Maaf mengganggu liburanmu, Tuan Ikram. Tapi ada masalah mendesak yang harus saya sampaikan kepada Anda.”

            Ikram melangkah dan duduk di atas sofa yang terletak di tengah-tengah kamar suite-nya. “Aku mendengarkan.”

            “Anda ingat anda pernah melakukan pertemuan dengan sebuah perusahaan dari Italia, Federico Company beberapa bulan yang lalu?”

            “Ya, aku ingat.”

            “Direktur perusahaan itu yaitu Luca Federico setuju untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan kita. Namun dia menolak untuk melakukan negosiasi dengan Tuan Nabil dan Tuan Fahad. Dia ingin melakukan negosiasi secara langsung dengan anda. Saya sudah menjelaskan padanya bahwa anda sedang tidak berada di Jerman. Tapi dia bersikeras akan melakukan meeting dengan anda secara online.”

            Ikram mendesah pelan dan menjawab dengan setengah terpaksa, “baiklah, pukul berapa dia ingin melakukan meeting denganku?”

            “Setengah jam lagi.”

            Ikram melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul delapan waktu Indonesia. Berarti sekarang pukul tiga sore waktu Jerman.

            “Baiklah, aku akan bersiap-siap. Akan aku kabari lagi nanti. Terima kasih, Ian. Sampai jumpa.”

            Setelah menutup telepon, Ikram berjalan ke arah meja kerja di kamar tempat di mana laptopnya berada dam kemudian menyalakannya.

Baiklah, untuk kali ini dia terpaksa harus mengurusi pekerjaan saat liburan. Hanya sekali ini saja, besok dia bisa bersantai dan melanjutkan tour-nya.

***

            Namun ternyata dugaan Ikram salah. Hari keempat dan kelima liburannya dia terpaksa harus tinggal di kamar untuk mengurusi pekerjaannya. Ikram pikir, setelah dia melakukan pertemuan online dengan Luca dia akan memiliki waktu luang setelahnya. Sayangnya tidak, ada masalah lain di perusahaan yang memang harus dia sendiri yang menanganinya. Ikram sangat sangat sibuk dan dia kurang tidur. Dia bahkan harus memesan layanan kamar untuk makan. Hal buruk lainnya dia terpaksa harus membatalkan rencana jalan-jalannya dan memberi tahu Salma untuk mengundur rencananya.

            Kalau tidak mengingat pekerjaan ini adalah tanggung jawabnya, rasanya dia ingin melarikan diri saja ke pulau yang tidak berpenghuni untuk meliburkan dirinya. Tapi mau bagaimana lagi?

Ikram menatap memijat pangkal hidungnya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut karena kurang tidur. Dia juga menatap makan siangnya dengan tidak berselera. Bukannya tidak bersyukur, hanya saja dia mulai bosan dengan makanan hotel. Hanya karena pegawai hotel tau dia dari Eropa, mereka kemudian menyediakannya menu makanan ala Barat. Ikram ingin mencicipi makanan lain. Misalnya seperti nasi dan lauk pauk yang waktu itu dia makan pertama kali.

Nasi dan lauk pauk.

Ikram menyeringai dan segera mengambil ponselnya untuk mengetikkan sesuatu.

Tiba-tiba saja sebuah ide muncul di kepalanya.

***

Salma menunduk menatap bungkusan di pangkuannya. Aroma nasi bungkus yang tercium olehnya membuat perutnya terasa keroncongan. Dia mengangkat kepalanya menatap tamu hotel yang berlalu lalang di lobi.

            Setelah Shalat dzuhur, Ikram mengiriminya sebuah pesan di whatsapp. Setelah dua hari tidak bertemu, laki-laki itu akhirnya menghubunginya.

            Maaf, aku ingin makan nasi dengan ayam bakar yang waktu itu kita makan, apa kau bisa tolong membelikannya untukku?

            Begitu isi pesan dari Ikram. Setelah mempertimbangkan akan membeli nasi di mana, Salma akhirnya berangkat dan di sinilah dia sekarang. Ikram bilang mereka akan bertemu di lobi hotel.

            Sambil menunggu, tiba-tiba saja Salma teringat pada Ikram. Kasihan sekali laki-laki itu. Dia datang ke sini untuk liburan tapi masih sibuk dengan urusan pekerjaannya. Apakah seorang fotografer memang sesibuk itu?

            Di tengah-tengah pikirannya, Salma kemudian tidak sengaja melihat sosok Ikram yang baru saja keluar dari lift. Laki-laki itu muncul dengan setelan santai, baju kaus polo berwarna army dan celana panjang berwarna khaki. Kali ini Ikram menggunakan sebuah kacamata yang membuat wajahnya terlihat lebih tampan dua kali lipat. Dia tersenyum manis ke arah Salma.

            “Maaf membuatmu menunggu lama.” Laki-laki itu berkata dengan rasa bersalah ketika dia sudah berada di dekat Salma. Dia agak menundukkan tubuhnya yang tinggi untuk berbicara pada Salma karena saat itu lobi tengah ramai karena banyak tamu yang baru check in sehingga situasi agak sedikit rebut dari biasanya.

            Salma tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Aku juga baru datang ke sini.” Ujarnya. Diam-diam Salma menatap ke arah Ikram. Dari jarak mereka sekarang, Salma bisa melihat wajah Ikram yang tampak kelelahan dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Membuat Salma bertanya-tanya dalam hatinya sesibuk apa pekerjaan seorang fotografer hingga membuat Ikram tampak keletihan dan kurang tidur. Tapi cepat-cepat dia menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikirannya. Hubungan mereka hanyalah sebatas pemandu wisata dan tamu. Salma tidak berhak untuk menanyakan apapun tentang Ikram. Bukan urusannya.

            “Ini pesananmu.” Ujar Salma sambil menyerahkan kantong plastik bawaannya pada Ikram.

            “Terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu. Tapi entah kenapa aku sangat ingin makan ini sekarang.” Ikram tersenyum manis sambil menerima kantong plastik itu.

            Sontak Salma merasakan jantungnya rasanya nyaris meledak dan dia cegukan hebat. Satu menit berlalu dan dia masih sibuk menghentikan cegukannya.

            “Kau baik-baik saja?” Tanya Ikram cemas. Raut wajahnya tampak benar-benar khawatir pada Salma.

            “A-aku baik- hik baik saja hik.” Ujar Salma. Dia menepuk-nepuk dadanya. 

            Kedua pipinya terasa panas. Salma yakin kedua pipinya memerah sekarang. Beberapa saat yang lalu Ikram tersenyum sambil menatap dalam ke arah matanya. Seolah laki-laki itu benar-benar tengah menatap dan menyelami dasar hatinya. Selama beberapa hari mengenali Ikram, Salma memang mengetahui bahwa laki-laki itu memang sangat ramah dan suka tersenyum. Tapi senyuman dan tatapannya barusan benar-benar berbeda dari biasanya. Rasanya Salma ingin bersembunyi saja. Dia malu sekali dan dia berarap bahwa Ikram tidak mengetahui alasan cegukannya ini.

            “Aku akan pulang dulu. Selamat menikmati makanannya.” Ujar Salma akhirnya.

            “Kau yakin tidak apa-apa? Apa kau ingin aku mengantarmu? Aku bisa mengambil taksi untuk pulang nanti.” Ujar Ikram.

            “Ah tidak apa-apa. Aku sungguh baik-baik saja. Tadi hanya sedikit…” Salma bingung bagaimana menjelaskannya, “tadi aku hanya tersedak. Ya sudah, sampai jumpa.” Dia membalikkan tubuhnya tanpa menunggu jawaban Ikram.


Bersambung.

No comments:

Post a Comment