Monday, 27 June 2022

Empat

 



Dengan mata terpejam Ikram berusaha mencari-cari ponselnya yang berada di atas meja nakas di samping ranjangnya. Saat menemukannya, dia segera mematikan alarm ponselnya yang sedari tadi sudah meraung-raung membangunkannya.

Setengah memaksakan diri Ikram bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjangnya untuk mengembalikan kesadarannya. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Seluruh tubuhnya terasa remuk semua dan tenggorokannya terasa kering. Meski sering melakukan perjalanan jauh ke luar negeri, tapi Ikram masih tetap tidak terbiasa dengan efek jetlag yang dia rasakan. Tanpa melihat jam dia sudah tahu pukul berapa. Pukul tiga dinihari. Ikram kemudian bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Dahulu rutinitas bangun di sepertiga malam masih sangat sulit baginya karena dia tidak bisa menahan lelah di tubuhnya akibat bekerja di kantor seharian. Namun sekarang entah sejak kapan tepatnya, Ikram mulai terbiasa untuk bangun selelah apapun dirinya.

Entah sejak kapan…

Mungkin sejak patah hati itu. Sejak itulah Ikram merasa bahwa satu-satunya ketenangan hati yang bisa dia dapatkan adalah dengan beribadah di sepertiga malam.

Setelah shalat Subuh Ikram tidak tidur kembali. Dia memutuskan untuk menyeduh teh yang disediakan di kamar hotel sambil kemudian membuka laptopnya untuk mengecek email yang mungkin dikirim oleh Ian, sekretaris pribadinya. Sebelum berangkat ke Indonesia, Ikram memang menyerahkan tugas-tugas perusahaan pada Ian untuk ditangani oleh sekretarisnya yang cekatan itu. Sementara untuk urusan meeting dengan klien perusahaan, Ikram menyerahkannya pada Nabil, kakaknya. Meski tidak bekerja di perusahaan, namun Nabil terus mengikuti perkembangan perusahaan mereka sehingga dia tidak terlalu ketinggalan dengan apa yang terjadi di sana.

Dua puluh menit berkutat dengan laptopnya, Ikram kemudian memutuskan untuk menyudahinya. Dia membawa mug berisi tehnya yang masih tersisa sambil berjalan ke sebuah pintu di kamarnya. Dengan sebelah tangan Ikram membuka pintu yang menghubungkannya ke balkon hotel. Ketika dia membuka pintu itu, pemandangan Gunung Marapi di pagi hari segera tersaji di depannya. Waktu masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Ikram duduk di kursi yang disediakan di balkon. Dia memposisikan tubuhnya dengan nyaman di kursi kemudian menyesap tehnya dengan pelan. Ikram menarik napasnya untuk menghirup udara pagi yang beraroma embun. Udaranya terasa agak dingin tapi segar. Sangat berbeda dengan musim dingin di Jerman sekarang yang mampu membuatnya menggertakkan gigi setiap saat karena rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulangnya. Ingatkan Ikram nanti untuk berterima kasih pada Salma karena telah memilihkannya kamar dengan pemandangan indah seperti ini.

 

 

 

Ikram tidak tahu berapa lama dia duduk di kursi ini untuk menikmati pemandangan di depannya. Dia tersadar ketika sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselnya yang berada di saku celana training hitamnya.

Mister Ikram, saya sudah berada di restoran hotel. Saya harap saya tidak datang terlalu pagi. Apakah Anda ingin sarapan sekarang?

Pesan barusan berasal dari Salma. Sebelum berpisah kemarin Salma memang sempat meminta nomor WhatsApp-nya agar komunikasi di antara mereka menjadi lebih mudah.

Dengan cepat Ikram segera mengetikkan balasannya untuk gadis itu. Dia segera bangkit dari duduknya untuk bersiap-siap.

Lima menit. Aku akan segera turun ke restoran.

***

            Pukul setengah tujuh pagi. Suasana restoran hotel bintang 5 itu tidak ramai karena masih terlalu pagi bagi pengunjung untuk sarapan pagi. Karena itu juga Ikram dengan mudah bisa mengenali Salma di antara beberapa pengunjung lainnya. 

 

 

 

Kedua sudut bibir Ikram tanpa sadar tertarik ke atas saat dia melihat dari samping sosok Salma yang tengah duduk sambil memperhatikan sekitarnya. Sesekali gadis itu diam-diam melirik penasaran ke arah piring makan yang dibawa oleh pengunjung hotel untuk mereka nikmati. Salma tampak seperti seorang anak yang tengah menunggu ibunya yang sedang mengambil makanan untuk mereka. Imut sekali.

Dengan kaos putih tipis berlengan pendek dan celana training hitam, tubuh tinggi Ikram muncul dihadapan Salma dengan perlahan. “Sudah lama menunggu?” Katanya sambil menarik kursi dihadapan Salma. Ikram menghentikan gerakannya saat dia melihat gadis itu terperanjat dan nyaris terpekik saat melihat sosoknya.

“Ada apa? Apa aku mengagetkanmu?” Tanya Ikram dengan nada cemas saat dia melihat Salma menutup mulutnya dengan tangannya. Kedua mata gadis itu melotot saat melihat ke arah Ikram dan entah kenapa Ikram seolah bisa mendengar jantung gadis itu berdetak dengan sangat cepat. Sepertinya kehadirannya memang benar-benar membuat Salma kaget setengah mati.

Salma tidak langsung menjawab. Gadis itu tampak menenangkan dirinya dan menepuk-nepuk pelan dadanya. Wajahnya masih tampak agak syok dengan yang terjadi barusan. Ikram yang merasa iba kemudian meminta salah satu pegawai hotel yang berjaga untuk mengambilkan segelas air putih untuk Salma.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mengagetkanmu.” Ujar Ikram penuh rasa bersalah setelah dia melihat Salma selesai meneguk air putih tersebut.

“Saya yang harusnya meminta maaf. Saya pikir saya yang bereaksi terlalu berlebihan. Tapi Anda muncul secara tiba-tiba dari samping dengan wajah pucat seperti valak.” Suara Salma terdengar mencicit di akhir kalimatnya.

“Dengan wajah pucat seperti apa?” Tanya Ikram. Dia tidak bisa mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Salma.

“Seperti…valak. Maaf.” Salma mengulangi kalimatnya dengan wajah merah padam. Tampaknya gadis itu merasa malu dan takut perkataannya akan membuat Ikram merasa tersinggung.

Demi mendengar kalimat Salma barusan, tawa Ikram nyaris meledak tapi dia berusaha menahannya dan menggantikannya dengan tawa kecil yang panjang. Ikram tentu tahu siapa itu valak. Siapa yang tidak tahu dengan tokoh seram dari sebuah film horror yang terkenal itu? Ikram pernah menonton filmnya bersama Jihan di bioskop.

Ikram sendiri sama sekali tidak merasa tersinggung dengan perkataan Salma barusan. Malahan dia merasa terhibur dan gemas dengan sikap Salma yang apa adanya. Salma mengingatkan Ikram pada sosok adiknya, Jihan.

“Kenapa kau datang pagi-pagi sekali kemari? Aku tidak apa-apa jika harus sarapan sendirian.” Ujar Ikram.

“Tidak apa-apa. Ini hari kedua Anda berada di sini. Saya harus memastikan semua kebutuhan Anda terpenuhi. Hari-hari berikutnya saya tidak akan datang ke sini untuk menemani Anda sarapan.”

 “Baiklah, aku akan mengambil sarapan dulu. Kau mau makan apa?” Tanya Ikram menawarkan.

Salma menggelengkan kepalanya. “Saya sudah sarapan di rumah tadi.”

Ikram menganggukkan kepalanya kemudian berbalik untuk mengambil sarapannya.

Tidak lama kemudian dia muncul dengan membawa dua piring kecil berisi salad buah dan roti bakar yang diolesi selai cokelat. Gaya sarapan yang khas dari Orang Barat.

“Kau yakin tidak ingin makan sesuatu?” Tanya Ikram lagi ketika dia sudah kembali duduk di tempatnya.

Salma menganggukkan kepalanya dengan pasti. “Mister Ikram, saya sudah….”

“Panggil Ikram. Panggil namaku saja” Potong Ikram dengan cepat. Dia tersenyum lebar saat Salma menganggukkan kepalanya.

“Jangan terlalu bersikap formal padaku. Siapa tahu kita bisa berteman. Berapa usiamu?” Tanya Ikram sambil menikmati salad buahnya.

“Dua puluh tiga.”

Usia yang sama dengan Aara ketika Ikram pertama kali bertemu dengan gadis itu di workshop kampus[1]

“Masih kuliah?”

“Sudah selesai.”

            “Aku punya seorang adik perempuan. Usianya dua puluh satu tahun. Dia masih kuliah sekarang. Biar aku tunjukkan fotonya padamu.” Ikram mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan dia mulai mencari-cari foto Jihan.

            “Ini dia. Namanya Jihan.” Ujar Ikram ketika dia sudah menemukan foto Jihan. Dia menyodorkan ponselnya pada Salma.

            “Cantik.” Kata Salma spontan membuat Ikram tersenyum geli mendengarnya. Salma kemudian menyodorkan kembali ponsel Ikram.

            Ikram tampak terdiam sejenak. Dia kemudian memutuskan untuk menanyakan sesuatu pada Salma.

            “Kau yakin tidak mengenaliku?” Tanyanya akhirnya pada Salma.

            “Ya?”

            “Kau yakin tidak pernah melihat wajahku di suatu tempat?” Di televisi atau di internet?” Tanya Ikram lagi.

            Salma mengerutkan dahinya, tanda dia tidak memahami perkataan Ikram barusan. “Err, tidak. Ini kali pertamaku bertemu denganmu.”

            Ikram tersenyum meringis. Dengan penampilan santainya sekarang tidak akan ada yang menyangka bahwa dia adalah seorang pemimpin sebuah perusahaan terbesar di Eropa. Nama Ikram bahkan masuk dalam daftar jajaran pengusaha muda tersukses di majalah bisnis terbesar di Amerika. Terbiasa dikenali banyak orang dan dikagumi masyarakat membuat Ikram merasa aneh saat Salma tidak mengenalinya. Bukan hanya Salma, orang-orang di sini bahkan tidak ada yang mengenalinya. Sepertinya pengaruh namanya yang penuh dengan prestasi gemilang tidak sampai ke benua dan negara ini. Sungguh amat disayangkan. Ikram tidak tahu apakah dia harus merasa senang karena akhirnya dia bisa berjalan dengan bebas tanpa dikenali siapapun atau harus merasa ironis karena tidak ada yang mengenalinya di sini. 

 

 

 



[1] Baca The Man Who Loves Pastry

Source of the pictures: Grand Rocky Hotel Bukittinggi

 

No comments:

Post a Comment