“Aku
akan segera pulang, ibu. Segera setelah pekerjaanku selesai.” Setelah
mengucapkan beberapa kata pada ibunya, Ikram memutuskan sambungan teleponnya. Ibunya
memintanya pulang ke rumah untuk makan malam bersama. Ikram menyandarkan
tubuhnya ke sandaran kursinya dan memijat dahinya yang terasa berdenyut. Entah
sejak kapan Ikram merasa bahwa pulang ke rumah menjadi sangat berat untuknya.
Mungkin lebih tepatnya sejak Aara, kakak iparnya tengah mengandung anak
pertamanya dengan Nabil, kakak laki-laki Ikram. Sejak mengetahui bahwa akan
memiliki cucu pertama, ibu mereka, Ayza selalu memaksa Aara untuk tinggal di
rumah mereka di Berlin dengan alasan Ayza ingin selalu bisa memantau keadaan
Aara. Padahal sejak menikah Nabil memang memutuskan untuk pindah ke Berlin dan
membeli sebuah rumah untuk keluarganya tidak jauh dari rumah orang tuanya.
Kalau saja keadaannya berbeda, Ikram
seharusnya juga turut bersuka cita untuk menyambut kelahiran keponakan
pertamanya. Tapi nyatanya tidak. Sampai saat ini rasanya sulit sekali menerima
kenyataan bahwa Aara adalah kakak iparnya sekarang. Ikram telah jatuh cinta
pada Aara sejak pandangan pertama. Love at first sight. Begitu
orang-orang menyebutnya. Sejak lima tahun terakhir Ikram selalu disibukkan
dengan hal-hal yang berkaitan dengan perusahaannya. Kakaknya, Nabil telah
memilih jalan hidupnya sendiri untuk menjadi seorang dokter psikiater. Sehingga
mau tidak mau urusan perusahaan diturunkan ayah mereka pada Ikram. Ikram tidak
pernah mau mengecewakan kedua orang tuanya. Oleh karena itu dia mengesampingkan
cita-citanya untuk menjadi seorang fotografer handal. Sekarang dia hanya
menekuni fotografi sebagai hobi di sela-sela kesibukannya. Sehingga dia nyaris
tidak memiliki waktu untuk jatuh cinta dan menikah. Tapi sejak melihat Aara
untuk pertama kalinya di aula gedung universitas itu, Ikram menyadarinya bahwa
Aara telah berhasil mengalihkan dunianya. Ikram sempat berpikir bahwa dia akan
mengenalkan Aara pada keluarganya dan dia tidak keberatan jika ibunya memintanya
untuk menikah saat itu juga. Namun takdir berkata lain. Ikram dan kakaknya
mencintai gadis yang sama. Yah, sebenarnya itu bukanlah suatu hal yang
mengejutkan mengingat bagaima dekatnya hubungan persaudaraan mereka sejak
kecil. Sehingga tidak heran mereka memiliki selera yang sama bahkan soal
kriteria pasangan hidup.
Ikram sangat menyayangi Nabil karena Nabil selalu
bersikap baik dan mengalah padanya sejak kecil. Itulah yang membuat Ikram pun
mengalah untuk tidak mendekati Aara. Ikram sungguh tidak ingin merusak
persaudaraannya dengan kakaknya hanya karena seorang gadis. Karena itu dia
lebih memilih untuk menanggung rasa patah hatinya dan mengubur perasaanya
dalam-dalam.
Orang
bilang cinta pertama adalah cinta yang paling sulit untuk dilupakan. Itu benar.
Ikram sudah membuktikannya. Apalagi kalau cinta pertama kita adalah alasan
terbesar kita untuk patah hati. Rasanya sangat menyakitkan bagi Ikram saat dia
melihat betapa bahagianya hubungan Nabil dan istrinya. Lagi-lagi Ikram harus
menelan sendiri kepahitan dari patah hati dan cemburunya di dalam hatinya. Dia
menyembunyikannya dengan selalu bersikap riang padahal rasanya memang
benar-benar menyakitkan. Ikram merasa tidak sanggup untuk menahan perasannya.
Dia kemudian memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan tinggal di salah satu
apartemen milik keluarganya. Dibanyak kesempatan, Ikram selalu berusaha untuk
mengurangi intensitas pertemuannya dengan Nabil dan istrinya. Bukan apa-apa,
hanya saja Ikram merasa bahwa dia membutuhkan tempat dan waktu bagi dirinya
sendiri untuk kembali menata hatinya. Jatuh cinta ternyata rasanya sangat
menyiksa. Mungkin setelah ini butuh waktu lama lagi bagi Ikram untuk kembali
jatuh cinta pada seseorang. Pada siapa dan kapan dia akan kembali jatuh cinta.
Entahlah. Hanya Allah yang tahu jawabannya.
***
“Selamat datang.”
Ikram nyaris mundur dan memutar
balik tubuhnya untuk kembali ke mobilnya saat mendapati siapa yang membukakan
pintu untuknya.
Aara,
kakak iparnya.
Ikram
hanya termangu di depan pintu tanpa berniat masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Dadanya kembali terasa berat dan nyeri. Hal yang selalu terjadi setiap kali dia
berhadapan dengan Aara.
Mengapa
bukan aku? Mengapa harus kakakku? Pertanyaan itulah yang selama
ini berputar-putar di dalam benaknya setiap kali berhadapan dengan kakak
iparnya. Terlebih saat rasa cemburu tengah memenuhi dadanya.
“Kenapa diam? Ayo masuk. Kami semua
sudah menunggumu di dalam.” Ujar Aara sambil tersenyum.
“Siapa, sayang?” Itu suara Nabil,
kakak Ikram. Dia tiba-tiba muncul dari balik punggung istrinya.
“Apa yang kau lakukan di sana? Ayo
masuk. Ayah dan ibu sudah menunggumu dari tadi.” Nabil mendorong pelan punggung
Ikram dan menutup pintu depan. Aara sudah duluan masuk ke ruang makan. Ikram
menghela napas panjang sambil memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. Dia tidak
ingin keluarganya mencurigainya bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya.
Ikram kemudian menyalami tangan
ayahnya dan memberikan sebuah kecupan di dahi ibunya. “Maaf aku datang
terlambat. Ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan tadi.” Katanya
dengan nada riang sambil menarik kursinya dan duduk di samping Jihan yang
sedang sibuk dengan ponselnya.
Pekerjaan
penting itu hanyalah sebuah alasan. Ikram sudah menyelesaikan pekerjaannya
sejak pukul enam sore. Tapi dia memilih mengulur-ngulur waktunya untuk pulang
ke rumah.
“Kau datang lama sekali, kak. Aku
hampir mati kelaparan.”
Ikram tertawa kecil dan menepuk
pelan punggung adik perempuannya sambil menggumamkan permintaan maafnya karena
telah datang terlambat. Mereka semua kemudian memulai acara makan malam itu
dengan tenang.
“Kau akan menginap di sini malam
ini?” Tanya Nabil pada Ikram saat mereka semua menyudahi acara makan malam dan
mengobrol santai di meja makan.
Ikram yang sedari tadi hanya terdiam
sambil memainkan sendoknya kemudian mengangkat kepalanya saat mendengar suara
Nabil. “Sepertinya tidak. Masih ada pekerjaan penting yang harus aku kerjakan.
Aku akan pulang ke apartemenku.” Katanya dengan nada santai. Berada di rumah
ini, di satu ruangan yang sama dengan kakak iparnya cukup membuatnya merasa
sesak.
“Menginaplah untuk semalam, Nak. Kau
sudah sangat jarang pulang ke rumah ini. Ibu tidak mengerti mengapa tiba-tiba
saja kau berubah menjadi sangat sibuk dan jauh dari kami.” Ayza menatap sedih
ke arah Ikram.
Ditatap
seperti itu membuat Ikram menjadi merasa bersalah pada ibunya. “Baiklah, aku
akan menginap di sini malam ini.” Katanya sambil tersenyum kecil.
“Kau boleh fokus bekerja tapi
perhatikan juga dirimu. Jangan sampai kau mengabaikan kesehatan dirimu
sendiri.” Fahad, ayah Ikram yang sedari tadi hanya diam kini bersuara.
Ikram menganggukkan kepalanya. “Akan
aku ingat, Ayah. Terima kasih.”
“Kak, ibu bilang dia akan
menjodohkanmu dengan anak kenalannya.” Ujar Jihan. Mendengar itu Ikram memutar
kepalanya ke arah ibunya dan menatap perempuan yang telah melahirkannya itu
dengan pandangan bertanya.
Ayza berdehem salah tingkah. “Ya,
ibu tidak akan melakukannya sekarang. Kita bisa melakukannya nanti. Tapi kau
harus bertemu dengan gadis itu. Aku sudah melihat fotonya. Dia sangat cantik
dan terlihat cocok denganmu. Kau pasti akan menyukainya nanti.”
Ikram
mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, merasa lelah dengan pembicaraan ini.
Bukan sekali dua kali ibunya mencoba mengatur perjodohan untuknya. Sejak Nabil
menikah, ibunya benar-benar mulai gencar untuk menyuruhnya menikah. Padahal,
Ikram sampai sekarang masih belum tertarik dengan gadis manapun. Dia sedang
berada dalam fase patah hati yang belum bisa disembuhkan. Dia belum siap untuk
jatuh cinta lagi.
“Ibu, tolong berhentilah menjodohkanku. Aku akan menikah.
Itu pasti. Tapi bukan sekarang. Ibu tidak perlu repot-repot mencarikan aku
gadis manapun karena aku tidak akan tertarik dengan hal itu. Begitu waktunya
tiba, aku pasti akan membawa dan mengenalkan gadis pilihanku pada ibu dan ayah
nanti. Ibu tenang saja.” Ikram mencoba untuk berkata dengan nada sabar.
Pembicaraan ini membuatnya merasa kesal setengah mati. Dia sedang patah hati
sekarang dan perempuan yang dia cintai tengah duduk di hadapannya sambil
tersenyum mendengarkan godaan yang dilontarkan oleh Nabil dan Jihan padanya.
Dua orang itu terus-terusan menggoda Ikram sejak tadi.
“Aku akan ke kamar duluan dan
beristirahat. Aku merasa sangat lelah hari ini.” Ujar Ikram akhirnya. Dia
merasa tidak tahan menjadi bahan olokan oleh saudara-saudaranya di meja makan.
Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, dia segera naik ke kamarnya yang
berada di lantai dua.
Sesampainya
di kamarnya, Ikram segera membersihkan diri dan menggunakan pakaian tidurnya
yang memang telah tersedia di kamarnya. Ikram kemudian duduk di depan
komputernya dan menyalakannya. Selama membersihkan diri tadi, Ikram telah
memikirkan sesuatu. Dia ingin pergi berlibur. Dia ingin pergi menjauh untuk
sementara dari tempat ini dan tidak berhubungan dengan keluarganya. Tinggal di
rumah yang berbeda saja ternyata tidak cukup baginya untuk menenangkan dirinya.
Ikram perlu pergi ke suatu tempat untuk menyepi dan menata perasaannya. Dia
tidak ingin lepas kendali dan mengacaukan segalanya. Perasaan cinta ini terasa
mengakar kuat di dalam hatinya. Tidak mudah dihilangkan begitu saja. Sejak
menyadari bahwa dia memiliki perasaan ini dan mengalami patah hati, Ikram
merasa bahwa kehidupannya menjadi banyak berubah. Dia tidak lagi memiliki
semangat seperti sebelumnya. Waktu-waktu luang yang tersedia dia habiskan untuk
melamun.
Karena
itu pergi dan menjauh dari kehidupannya yang sekarang mungkin adalah pilihan
yang terbaik.
Ikram
menatap peta dunia besar yang terbentang dan menempel di dinding kamarnya. Dia
selalu menandai peta itu setiap kembali dari melakukan perjalanan dari luar
negeri untuk mendapatkan foto-foto yang bagus. Perjalanan bisnis tidak termasuk
di dalamnya. Karena yah, dia pergi ke luar negeri untuk bekerja bukan untuk
berlibur. Ikram mengusap dagunya sambil memandang satu persatu negara yang
ingin dia kunjungi. Sekarang sedang musim dingin. Sama seperti kakaknya, Ikram
tidak terlalu menyukai musim dingin. Untuk sekarang dia tidak akan memilih negara
yang memiliki empat musim. Sebaiknya memilih negara yang beriklim tropis saja.
Mata dan jari telunjuk Ikram kemudian menelusuri peta negara di area Asia
Tenggara. Hmm, kemana dia akan pergi? Vietnam? Kamboja? Thailand? Atau
Malaysia? Telunjuk Ikram terus bergerak ke bawah ke peta Indonesia yang
terbentang sangat luas hingga gerakan tangannya berhenti di peta Pulau Sumatera,
Indonesia. Dia mengerutkan dahinya saat melihat tulisan West Sumatera di
sana. Rasanya dia pernah melihat nama ini sebelumnya. Tapi di mana?
Masih mencoba berusaha menggali
ingatannya, Ikram membuka riwayat pencariannya di internet. Dia sangat jarang
menggunakan komputer ini, jadi riwayat pencariannya tidak terlalu banyak. Oh, benar
saja. Dia menemukannya. Ikram pernah menonton video Youtube di sini dan waktu
itu dia tidak sengaja menonton video iklan yang mempromosikan salah satu
provinsi di Indonesia itu karena video itu muncul begitu saja di berandanya.
Dia memutuskan untuk menonton sekali lagi video itu. Provinsi ini terlihat
menarik perhatiannya. Banyak pemandangan alam yang bagus di sana. Ikram akan
mendapatkan banyak foto-foto bagus di sana nantinya.
Ikram
kemudian segera mencari alamat agen travel yang bisa dia gunakan selama tour
nya nanti di sana. Dia tidak berencana untuk menaiki pesawat pribadi
keluarganya dan ditemani dengan asisten pribadinya. Ikram akan pergi sebagai
turis biasa karena dia tidak ingin memancing keributan media.
Penerbangan
dari Jerman ke Indonesia akan memakan waktu belasan jam, tapi itu tidak masalah
bagi Ikram.
Dia
akan pergi menjauh untuk sementara dari keadaan yang menyesakkan ini.
Bersambung .