Monday, 27 June 2022

Prolog

 






Sebulan.
Dua bulan.
Tiga bulan.

Empat bulan berlalu. Namun orang itu tidak pernah kembali untuk menjemputnya.
Apa yang terjadi?
Apakah orang itu sudah melupakannya?

Melupakan bahwa mereka menunggu kedatangannya di sini?
Apakah orang itu melupakan janjinya untuk terus bersama?
Apa benar begitu?

***

Dia terdiam sambil menatap kosong pada pemandangan kota di malam hari yang terhampar indah di hadapannya.
Sudut hatinya terasa meronta-ronta dan meringis sakit tanpa alasan.
Rasanya ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya.
Ada yang kosong.
Ada yang hilang.
Tapi dia tidak tahu apa sesuatu yang hilang itu.
Ada sesuatu yang tengah menunggunya.

Tapi dia tidak tahu kemana harus pulang.
Dia merindukan sesuatu.
Tapi apa sesuatu itu?

Satu


            “Aku akan segera pulang, ibu. Segera setelah pekerjaanku selesai.” Setelah mengucapkan beberapa kata pada ibunya, Ikram memutuskan sambungan teleponnya. Ibunya memintanya pulang ke rumah untuk makan malam bersama. Ikram menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursinya dan memijat dahinya yang terasa berdenyut. Entah sejak kapan Ikram merasa bahwa pulang ke rumah menjadi sangat berat untuknya. Mungkin lebih tepatnya sejak Aara, kakak iparnya tengah mengandung anak pertamanya dengan Nabil, kakak laki-laki Ikram. Sejak mengetahui bahwa akan memiliki cucu pertama, ibu mereka, Ayza selalu memaksa Aara untuk tinggal di rumah mereka di Berlin dengan alasan Ayza ingin selalu bisa memantau keadaan Aara. Padahal sejak menikah Nabil memang memutuskan untuk pindah ke Berlin dan membeli sebuah rumah untuk keluarganya tidak jauh dari rumah orang tuanya.

            Kalau saja keadaannya berbeda, Ikram seharusnya juga turut bersuka cita untuk menyambut kelahiran keponakan pertamanya. Tapi nyatanya tidak. Sampai saat ini rasanya sulit sekali menerima kenyataan bahwa Aara adalah kakak iparnya sekarang. Ikram telah jatuh cinta pada Aara sejak pandangan pertama. Love at first sight. Begitu orang-orang menyebutnya. Sejak lima tahun terakhir Ikram selalu disibukkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan perusahaannya. Kakaknya, Nabil telah memilih jalan hidupnya sendiri untuk menjadi seorang dokter psikiater. Sehingga mau tidak mau urusan perusahaan diturunkan ayah mereka pada Ikram. Ikram tidak pernah mau mengecewakan kedua orang tuanya. Oleh karena itu dia mengesampingkan cita-citanya untuk menjadi seorang fotografer handal. Sekarang dia hanya menekuni fotografi sebagai hobi di sela-sela kesibukannya. Sehingga dia nyaris tidak memiliki waktu untuk jatuh cinta dan menikah. Tapi sejak melihat Aara untuk pertama kalinya di aula gedung universitas itu, Ikram menyadarinya bahwa Aara telah berhasil mengalihkan dunianya. Ikram sempat berpikir bahwa dia akan mengenalkan Aara pada keluarganya dan dia tidak keberatan jika ibunya memintanya untuk menikah saat itu juga. Namun takdir berkata lain. Ikram dan kakaknya mencintai gadis yang sama. Yah, sebenarnya itu bukanlah suatu hal yang mengejutkan mengingat bagaima dekatnya hubungan persaudaraan mereka sejak kecil. Sehingga tidak heran mereka memiliki selera yang sama bahkan soal kriteria pasangan hidup.

            Ikram sangat menyayangi Nabil karena Nabil selalu bersikap baik dan mengalah padanya sejak kecil. Itulah yang membuat Ikram pun mengalah untuk tidak mendekati Aara. Ikram sungguh tidak ingin merusak persaudaraannya dengan kakaknya hanya karena seorang gadis. Karena itu dia lebih memilih untuk menanggung rasa patah hatinya dan mengubur perasaanya dalam-dalam.

Orang bilang cinta pertama adalah cinta yang paling sulit untuk dilupakan. Itu benar. Ikram sudah membuktikannya. Apalagi kalau cinta pertama kita adalah alasan terbesar kita untuk patah hati. Rasanya sangat menyakitkan bagi Ikram saat dia melihat betapa bahagianya hubungan Nabil dan istrinya. Lagi-lagi Ikram harus menelan sendiri kepahitan dari patah hati dan cemburunya di dalam hatinya. Dia menyembunyikannya dengan selalu bersikap riang padahal rasanya memang benar-benar menyakitkan. Ikram merasa tidak sanggup untuk menahan perasannya. Dia kemudian memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan tinggal di salah satu apartemen milik keluarganya. Dibanyak kesempatan, Ikram selalu berusaha untuk mengurangi intensitas pertemuannya dengan Nabil dan istrinya. Bukan apa-apa, hanya saja Ikram merasa bahwa dia membutuhkan tempat dan waktu bagi dirinya sendiri untuk kembali menata hatinya. Jatuh cinta ternyata rasanya sangat menyiksa. Mungkin setelah ini butuh waktu lama lagi bagi Ikram untuk kembali jatuh cinta pada seseorang. Pada siapa dan kapan dia akan kembali jatuh cinta. Entahlah. Hanya Allah yang tahu jawabannya.

***

            “Selamat datang.”

            Ikram nyaris mundur dan memutar balik tubuhnya untuk kembali ke mobilnya saat mendapati siapa yang membukakan pintu untuknya.

            Aara, kakak iparnya.

Ikram hanya termangu di depan pintu tanpa berniat masuk ke dalam rumah orang tuanya. Dadanya kembali terasa berat dan nyeri. Hal yang selalu terjadi setiap kali dia berhadapan dengan Aara.

Mengapa bukan aku? Mengapa harus kakakku? Pertanyaan itulah yang selama ini berputar-putar di dalam benaknya setiap kali berhadapan dengan kakak iparnya. Terlebih saat rasa cemburu tengah memenuhi dadanya.

            “Kenapa diam? Ayo masuk. Kami semua sudah menunggumu di dalam.” Ujar Aara sambil tersenyum.

            “Siapa, sayang?” Itu suara Nabil, kakak Ikram. Dia tiba-tiba muncul dari balik punggung istrinya.

            “Apa yang kau lakukan di sana? Ayo masuk. Ayah dan ibu sudah menunggumu dari tadi.” Nabil mendorong pelan punggung Ikram dan menutup pintu depan. Aara sudah duluan masuk ke ruang makan. Ikram menghela napas panjang sambil memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. Dia tidak ingin keluarganya mencurigainya bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya.

            Ikram kemudian menyalami tangan ayahnya dan memberikan sebuah kecupan di dahi ibunya. “Maaf aku datang terlambat. Ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan tadi.” Katanya dengan nada riang sambil menarik kursinya dan duduk di samping Jihan yang sedang sibuk dengan ponselnya.

Pekerjaan penting itu hanyalah sebuah alasan. Ikram sudah menyelesaikan pekerjaannya sejak pukul enam sore. Tapi dia memilih mengulur-ngulur waktunya untuk pulang ke rumah.

            “Kau datang lama sekali, kak. Aku hampir mati kelaparan.”

            Ikram tertawa kecil dan menepuk pelan punggung adik perempuannya sambil menggumamkan permintaan maafnya karena telah datang terlambat. Mereka semua kemudian memulai acara makan malam itu dengan tenang.

            “Kau akan menginap di sini malam ini?” Tanya Nabil pada Ikram saat mereka semua menyudahi acara makan malam dan mengobrol santai di meja makan.

            Ikram yang sedari tadi hanya terdiam sambil memainkan sendoknya kemudian mengangkat kepalanya saat mendengar suara Nabil. “Sepertinya tidak. Masih ada pekerjaan penting yang harus aku kerjakan. Aku akan pulang ke apartemenku.” Katanya dengan nada santai. Berada di rumah ini, di satu ruangan yang sama dengan kakak iparnya cukup membuatnya merasa sesak.

            “Menginaplah untuk semalam, Nak. Kau sudah sangat jarang pulang ke rumah ini. Ibu tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja kau berubah menjadi sangat sibuk dan jauh dari kami.” Ayza menatap sedih ke arah Ikram.

Ditatap seperti itu membuat Ikram menjadi merasa bersalah pada ibunya. “Baiklah, aku akan menginap di sini malam ini.” Katanya sambil tersenyum kecil.

            “Kau boleh fokus bekerja tapi perhatikan juga dirimu. Jangan sampai kau mengabaikan kesehatan dirimu sendiri.” Fahad, ayah Ikram yang sedari tadi hanya diam kini bersuara.

            Ikram menganggukkan kepalanya. “Akan aku ingat, Ayah. Terima kasih.”

            “Kak, ibu bilang dia akan menjodohkanmu dengan anak kenalannya.” Ujar Jihan. Mendengar itu Ikram memutar kepalanya ke arah ibunya dan menatap perempuan yang telah melahirkannya itu dengan pandangan bertanya.

            Ayza berdehem salah tingkah. “Ya, ibu tidak akan melakukannya sekarang. Kita bisa melakukannya nanti. Tapi kau harus bertemu dengan gadis itu. Aku sudah melihat fotonya. Dia sangat cantik dan terlihat cocok denganmu. Kau pasti akan menyukainya nanti.”

            Ikram mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, merasa lelah dengan pembicaraan ini. Bukan sekali dua kali ibunya mencoba mengatur perjodohan untuknya. Sejak Nabil menikah, ibunya benar-benar mulai gencar untuk menyuruhnya menikah. Padahal, Ikram sampai sekarang masih belum tertarik dengan gadis manapun. Dia sedang berada dalam fase patah hati yang belum bisa disembuhkan. Dia belum siap untuk jatuh cinta lagi.

            “Ibu, tolong berhentilah menjodohkanku. Aku akan menikah. Itu pasti. Tapi bukan sekarang. Ibu tidak perlu repot-repot mencarikan aku gadis manapun karena aku tidak akan tertarik dengan hal itu. Begitu waktunya tiba, aku pasti akan membawa dan mengenalkan gadis pilihanku pada ibu dan ayah nanti. Ibu tenang saja.” Ikram mencoba untuk berkata dengan nada sabar. Pembicaraan ini membuatnya merasa kesal setengah mati. Dia sedang patah hati sekarang dan perempuan yang dia cintai tengah duduk di hadapannya sambil tersenyum mendengarkan godaan yang dilontarkan oleh Nabil dan Jihan padanya. Dua orang itu terus-terusan menggoda Ikram sejak tadi.

            “Aku akan ke kamar duluan dan beristirahat. Aku merasa sangat lelah hari ini.” Ujar Ikram akhirnya. Dia merasa tidak tahan menjadi bahan olokan oleh saudara-saudaranya di meja makan. Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, dia segera naik ke kamarnya yang berada di lantai dua.

Sesampainya di kamarnya, Ikram segera membersihkan diri dan menggunakan pakaian tidurnya yang memang telah tersedia di kamarnya. Ikram kemudian duduk di depan komputernya dan menyalakannya. Selama membersihkan diri tadi, Ikram telah memikirkan sesuatu. Dia ingin pergi berlibur. Dia ingin pergi menjauh untuk sementara dari tempat ini dan tidak berhubungan dengan keluarganya. Tinggal di rumah yang berbeda saja ternyata tidak cukup baginya untuk menenangkan dirinya. Ikram perlu pergi ke suatu tempat untuk menyepi dan menata perasaannya. Dia tidak ingin lepas kendali dan mengacaukan segalanya. Perasaan cinta ini terasa mengakar kuat di dalam hatinya. Tidak mudah dihilangkan begitu saja. Sejak menyadari bahwa dia memiliki perasaan ini dan mengalami patah hati, Ikram merasa bahwa kehidupannya menjadi banyak berubah. Dia tidak lagi memiliki semangat seperti sebelumnya. Waktu-waktu luang yang tersedia dia habiskan untuk melamun.

Karena itu pergi dan menjauh dari kehidupannya yang sekarang mungkin adalah pilihan yang terbaik.

Ikram menatap peta dunia besar yang terbentang dan menempel di dinding kamarnya. Dia selalu menandai peta itu setiap kembali dari melakukan perjalanan dari luar negeri untuk mendapatkan foto-foto yang bagus. Perjalanan bisnis tidak termasuk di dalamnya. Karena yah, dia pergi ke luar negeri untuk bekerja bukan untuk berlibur. Ikram mengusap dagunya sambil memandang satu persatu negara yang ingin dia kunjungi. Sekarang sedang musim dingin. Sama seperti kakaknya, Ikram tidak terlalu menyukai musim dingin. Untuk sekarang dia tidak akan memilih negara yang memiliki empat musim. Sebaiknya memilih negara yang beriklim tropis saja. Mata dan jari telunjuk Ikram kemudian menelusuri peta negara di area Asia Tenggara. Hmm, kemana dia akan pergi? Vietnam? Kamboja? Thailand? Atau Malaysia? Telunjuk Ikram terus bergerak ke bawah ke peta Indonesia yang terbentang sangat luas hingga gerakan tangannya berhenti di peta Pulau Sumatera, Indonesia. Dia mengerutkan dahinya saat melihat tulisan West Sumatera di sana. Rasanya dia pernah melihat nama ini sebelumnya. Tapi di mana?

            Masih mencoba berusaha menggali ingatannya, Ikram membuka riwayat pencariannya di internet. Dia sangat jarang menggunakan komputer ini, jadi riwayat pencariannya tidak terlalu banyak. Oh, benar saja. Dia menemukannya. Ikram pernah menonton video Youtube di sini dan waktu itu dia tidak sengaja menonton video iklan yang mempromosikan salah satu provinsi di Indonesia itu karena video itu muncul begitu saja di berandanya. Dia memutuskan untuk menonton sekali lagi video itu. Provinsi ini terlihat menarik perhatiannya. Banyak pemandangan alam yang bagus di sana. Ikram akan mendapatkan banyak foto-foto bagus di sana nantinya.

Ikram kemudian segera mencari alamat agen travel yang bisa dia gunakan selama tour nya nanti di sana. Dia tidak berencana untuk menaiki pesawat pribadi keluarganya dan ditemani dengan asisten pribadinya. Ikram akan pergi sebagai turis biasa karena dia tidak ingin memancing keributan media.

Penerbangan dari Jerman ke Indonesia akan memakan waktu belasan jam, tapi itu tidak masalah bagi Ikram.

Dia akan pergi menjauh untuk sementara dari keadaan yang menyesakkan ini.

 

Bersambung .

Dua


            “Kau mau ke mana? Perjalanan bisnis?”

            Ikram menghentikan gerakan tangannya yang sedang sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam sebuah koper berukuran besar. Ia melihat Nabil masuk ke dalam kamarnya sambil memegang segelas susu putih hangat. Susu hangat itu pasti untuk Aara. Membayangkan hal itu saja cukup membuat wajah Ikram berubah murung.

            “Aku akan pergi berlibur. Aku sudah mengatakannya pada ayah.” Katanya sambil melanjutkan mengambil pakaiannya dari dalam walk in closet besar di kamarnya.

            Nabil mendekatinya dan duduk di tepi ranjang Ikram. “Kau membawa banyak sekali pakaian. Apakah kau akan pergi untuk waktu yang cukup lama?”

            “Yah sepertinya begitu. Aku akan…”

            “Kak, kakak akan pergi ke mana? Ayah bilang kakak akan pergi ke luar negeri. Aku ikut!” Tiba-tiba saja Jihan, adik perempuan mereka masuk dengan terburu-buru ke dalam kamar Ikram. Nabil dan Ikram tersenyum geli melihat penampilan adik perempuan mereka yang hanya menggunakan piyama tidur bermotifkan doraemon berdiri dengan wajah cemberut di antara mereka.

            “Tidak bisa, sweety. Aku akan pergi selama dua minggu. Kau kan harus kuliah.” Balas Ikram.

            Mendengar itu Jihan semakin cemberut. “Kau kan selalu berkata bahwa aku bisa ikut denganmu kemana saja. Oh ayolah, kak. Aku ingin ikut. Memangnya kau akan pergi ke mana?” Tanyanya dengan nada menuntut pada Ikram.

            Kali ini Ikram menghentikan gerakannya dan mengambil posisi duduk di samping kakak tertuanya, Nabil. “Tidak sekarang, Jihan. Aku akan pergi ke Indonesia. Perjalanannya sangat jauh. Aku akan pergi tanpa ditemani oleh Ian dan pengawal lainnya. Aku janji aku akan membawakanmu oleh-oleh dari sana nanti.”

            “Tidak mau. Aku ingin ikut.” Ujar Jihan dengan keras kepala.

            Sweetheart, jangan begitu. Biarkan Ikram pergi sendiri kali ini. Aku akan mengajakmu ke tempat yang kau inginkan nanti. Sekarang waktunya kau tidur. Kembalilah ke kamarmu.” Nabil berkata dengan nada tegas. Mau tidak mau Jihan mengikuti perintah kakak tertuanya dan kembali ke kamarnya dengan wajah cemberut.

            “Kau akan pergi ke luar negeri, tanpa pengawal? Ikram, itu sangat berisiko. Sebagai petinggi perusahaan, bahaya akan selalu mengancam dirimu di mana-mana.” Ujar Nabil saat hanya tinggal mereka berdua di kamar itu.

            “Aku menyadari itu, kak. Tapi hanya kali ini, hanya kali ini aku ingin pergi sendirian. Aku memohon pada ayah untuk mengizinkanku pergi tanpa dikawal. Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku sendiri.” Balas Ikram dengan nada melamun. Pandangannya kosong ke arah depan.

            Nabil menyadari ekspresi mendung di wajah Ikram. Sepertinya Ikram tengah mengalami masa sulit sekarang dan adiknya itu tampaknya memang benar-benar membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.

            “Baiklah, asalkan kau bisa menjaga dirimu sendiri.” Nabil bangkit dari duduknya dan menepuk pelan Pundak Ikram. “Jangan membuat ibu dan ayah menjadi khawatir karenamu. Dan pulanglah sebelum anakku lahir. Kau tidak ingin melihat keponakan pertamamu?” Tanya Nabil sambil tersenyum.

 Melihat wajah bahagia kakaknya, Ikram ikut tersenyum, “Akan aku usahakan.” Balasnya dengan nada riang yang dipaksakan.

***

             “Kau akan pergi sekarang?” Ayza bertanya saat dia melihat Ikram menurunkan kopernya dari anak tangga.

            “Iya, ibu. Pesawatku ke Kuala Lumpur akan berangkat pagi ini.” Balas Ikram sambil merapikan ransel yang tengah dia sandang di punggungnya.

            “Kau yakin tidak akan berangkat dengan pesawat kita?” Tanya Fahad yang sedang duduk menikmati sarapannya di meja makan.

            “Tidak apa-apa, ayah. Lagipula untuk penerbangan kali ini aku sudah mengambil kelas bisnis. Ibu, aku tidak bisa ikut sarapan bersama kalian. Aku harus segera berangkat ke bandara sekarang juga.” Ikram segera mendekati ibu dan ayahnya untuk menyalami dan memeluk kedua orang tuanya. Ia juga memeluk Nabil dan Jihan sebelum kemudian berjalan ke arah koper besarnya.

            “Aara, ehm maksudku kakak ipar, aku pergi dulu.” Ujar Ikram pada Aara yang tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya di meja makan.

            “Tunggu dulu.” Aara bangkit dari kursinya dengan berhati-hati dan berjalan dengan agak susah payah ke arah counter di dapur. Perutnya yang sudah sangat besar karena kehamilannya yang semakin mendekati waktu kelahiran membuat langkahnya menjadi sangat lamban.

            Ikram hanya memperhatikan gerakan Aara dengan wajah tanpa ekspresi bahkan ketika dia melihat Aara datang mendekat ke arahnya sambil membawa bungkusan berukuran kecil. Dia menyerahkan bungkusan itu pada Ikram sambil tersenyum kecil.

            “Aku membuatnya untuk kau makan di perjalananmu.” Ujarnya.

            Ikram menerima bungkusan itu dan mengintip isinya. Ada sekitar tujuh cookies cokelat berukuran sedang di dalamnya. Seketika dia menghembuskan napas pelan. Aara pasti sudah memaksakan dirinya untuk membuatkan ini untuk Ikram. “Terima kasih kakak ipar. Akan aku makan nanti.” Ujarnya dengan nada tulus.    

            Setelah berpamitan untuk terakhir kalinya pada keluarganya Ikram segera menarik kopernya menuju mobil yang akan mengantarnya ke bandara.

            Semoga setelah kembali dari perjalanannya perasaan cinta ini akan hilang begitu saja dan dia mampu berdamai dengan kenyataan.