Monday, 27 June 2022

Lima

 

“Kau yakin ingin berjalan saja? Tidak ingin naik mobil?” Tanya Salma saat mereka bersiap-siap untuk melakukan tur dalam kota.

Sambil merapikan kamera yang tergantung di lehernya Ikram menganggukkan kepalanya. “Tentu saja. Kau bilang kota ini sangat kecil dan jarak dari satu tempat ke tempat yang lain adalah sangat dekat.”

“Memang betul. Bagiku memang tidak jauh. Tapi kau pasti nanti kelelahan karena ini kali pertamamu datang ke sini. Udaranya juga cukup panas.” Salma kembali membujuk untuk naik mobil Om Evan.

“Tidak apa-apa. Kalau aku merasa kelelahan aku akan mengatakannya padamu dan kau bisa memanggil Mister Evan untuk menjemput kita.” Balas Ikram bersikeras. Kalau naik mobil bisa-bisa Ikram akan melewatkan banyak pemandangan bagus. Berbeda jika mereka berjalan kaki. Dia bisa berhenti kapanpun untuk mengambil foto.

Salma mendesah lelah tanda dia memilih untuk mengalah. “Ya sudah, terserah kau saja. Ayo.”

Diam-diam Ikram tersenyum saat mereka melangkah keluar dari lobi. Ini baru hari kedua dia di sini. Namun anehnya hubungannya dengan Salma bahkan meningkat secara drastis. Bukan lagi seperti hubungan antara tour-guide dan kliennya. Mereka tampak seperti teman yang sudah saling mengenal sejak lama. Meski terbilang ramah dan akrab kepada siapa saja, tapi Ikram bukanlah tipe yang mudah merasa nyaman pada orang yang baru ditemuinya. Dengan Salma dia bisa merasa lebih santai dan tenang. Salma bahkan bukan termasuk tipe gadis-gadis yang selama ini dia temukan di manapun. Gadis itu tidak bersikap mencolok untuk menarik perhatian Ikram.

Aneh sekali.

Namun yang lebih anehnya Ikram mulai menikmati hal ini.

***

            Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan ketika mereka sudah sampai di tempat tujuan pertama untuk dikunjungi, yaitu monumen Jam Gadang. Hanya diperlukan waktu lebih kurang sepuluh menit untuk mencapai monumen ini dari hotel tempat Ikram menginap. 

 

 


             “Wah, apa nama bangunan ini?” Tanya Ikram ketika mereka sudah sampai di bawah Jam Gadang.

            “Ini namanya Jam Gadang yang berarti jam besar.”

            Ikram menganggukkan kepalanya dan dia mendongak untuk menatap puncak Menara Jam Gadang.

            “Dibangun pada tahun 1926. Jam Gadang merupakan hadiah dari Ratu Belanda, Queen Wilhelmina untuk Hendrik Roelof Rookmaaker, seorang sekretaris Kota Fort de Kock. Fort de Kock adalah sebutan untuk Kota Bukittinggi selama masa pemerintahan Hindia Belanda. Apakah kau pernah mendengar bahwa dulu Indonesia berada di bawah jajahan Belanda selama 350 tahun?” Tanya Salma setelah dia menjelaskan secara panjang lebar pada Ikram tentang sejarah Jam Gadang.

            “Ah iya, aku pernah mendengarnya dulu. Mengerikan sekali.” Balas Ikram.

            Salma mengangguk. “Sekarang coba perhatikan jamnya. Apakah ada yang terlihat unik di sana?” dia menunjuk ke arah menara Jam Gadang.

            Ikram ikut mengalihkan pandangannya ke arah menara. Dahinya berkerut saat dia mencoba mencari keunikan yang dimaksud oleh Salma. Matanya melebar saat menemukan keganjilan itu. “Apakah itu karena penulisan angka romawi yang ditulis secara berbeda?”

            Salma tersenyum lebar. “Tepat sekali. Seperti yang kau lihat penulisan angka 4 romawi seharusnya seperti IV. Tapi di sana yang tertulis adalah angka I secara berurutan sebanyak empat kali.”

            “Kenapa bisa begitu?”

            Salma menaikkan bahunya. “Tidak ada yang tahu. Masih menjadi misteri. Ada yang bilang penulisan di jam memang seharusnya begitu. Pendapat lain bilang selama pembangunan Jam Gadang ada empat orang pekerja yang meninggal dunia. Karena itu penulisannya dibuat menjadi berurutan seperti itu. Tapi seperti yang aku bilang barusan, tidak ada yang tahu pasti alasannya.”

            “Aku mengerti. Jam ini cukup mirip dengan Jam Big Ben di London.”

            “Yah, jam ini sering disebut-sebut sebagai kembaran Big Ben karena ada satu bagian dari jamnya yang hanya ada dua di dunia, satu ada di Big Ben, dan yang satunya lagi ada di Jam Gadang.”

            “Menarik sekali.” Ujar Ikram dengan nada penuh kekaguman. Kini tangannya sibuk menggunakan kameranya untuk mengambil gambar Jam Gadang dari segala sisi. Salma juga membantu Ikram untuk mengambil fotonya di depan Jam Gadang.

            “Kau pernah mengunjungi Big Ben sebelumnya?” Tanya Salma.

            “Pernah. Dua kali. Tapi hanya mampir sebentar karena aku datang ke London untuk urusan pekerjaan.” Balas Ikram tanpa mengalihkan pandangannya dari kameranya.

            “Aku juga ingin mengunjungi London suatu hari nanti. Kalau kau tidak keberatan apa aku boleh bertanya tentang pekerjaanmu?”

            “Tentu saja. Kau boleh bertanya apapun padaku.” Ikram mengangkat kepalanya dari kamera dan tersenyum manis ke arah Salma. Dia kemudian melanjutkan kesibukannya dengan kameranya.

“Kalau begitu apa kau seorang fotografer?” Tanya Salma lagi. Kali ini ada sedikit nada penasaran di dalam suaranya. 

            “Ah tidak, sebenarnya aku seorang direk…” Tiba-tiba saja Ikram menghentikan kegiatan memilah-milah foto di kameranya. Dia mengangkat kepalanya dari kameranya dan menatap ke depan. Ikram terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu. Sementara di depannya Salma tampak tengah menanti jawabannya.

            “Maksudku, ya aku seorang fotografer. Dan tentang impianmu itu, kau akan sampai ke London suatu hari nanti.” Ujar Ikram sambil memamerkan senyum menawannya.

            Ikram tidak mengerti mengapa barusan dia memilih untuk berbohong pada Salma tentang pekerjaannya. Yang dia tahu tiba-tiba saja dia ingin Salma mengetahui sisi lain dari dirinya yang tidak banyak diketahui oleh orang lain.

            Aneh sekali.

            Namun lagi-lagi yang lebih anehnya, Ikram menikmati hal itu.

***

            Salma nyaris membalikkan tubuhnya dan berlari pulang saat Ikram tiba-tiba saja bertanya apakah mereka akan mengunjungi Terowongan Jepang. Setelah Shalat Dzuhur di masjid terdekat, mereka menghabiskan waktu di Panorama Ngarai Sianok. 

 

 


             Hampir dua jam mereka berada di sana karena Ikram tampak sibuk mengambil gambar dan sesekali memberi makan monyet-monyet yang ada di sana. Laki-laki itu bahkan sengaja meminta tolong pada Salma untuk membelikan makanan kecil untuk monyet. Setelah selesai dengan kegiatannya, Ikram mulai bertanya padanya apakah mereka akan mengunjungi Terowongan Jepang yang letaknya tidak jauh dari posisi mereka sekarang.

            Salma lupa tentang hal itu. Dia melupakan poin bahwa kunjungan ke tempat bersejarah Terowongan Jepang merupakan bagian dari paket tour. Mau tidak mau dia memang harus masuk ke sana untuk menemani tamunya. Untuk menemani Ikram. Terowongan Jepang di Kota Bukittinggi memang memiliki cerita mistis tersendiri. Tentu saja. Memangnya ada tempat bersejarah yang tidak memiliki hal-hal seperti itu? Namun bagi Salma bukan itu yang dia takutkan. Dia memiliki fobia terhadap kegelapan. Letak Terowongan Jepang yang berada di bawah tanah dan gelap meski diberi pencahayaan yang minim akan membuatnya merasakan sesak yang amat sangat. Tapi Salma tidak memiliki pilihan lain. Dia harus bersikap profesional. Dalam hati dia terus berdoa agar fobianya tidak muncul dan menganggu perjalanan mereka. 

 

 



              Selama perjalanan mereka seharian ini, Salma dengan susah payah berusaha menahan dirinya untuk tidak terlalu kagum dan tersanjung dengan sifat gentleman yang ditunjukkan oleh Ikram padanya. Laki-laki itu sangat tanggap dan cekatan saat melindunginya. Misalnya ketika mereka berjalan di jalan raya, Ikram pasti akan memilih berjalan di badan jalan sementara Salma akan berjalan di atas trotoar. Atau seperti saat ini, ketika mereka mulai menuruni puluhan tangga untuk masuk ke dalam terowongan, Ikram menuruni tangga tepat di belakang Salma, supaya laki-laki itu bisa memastikan Salma baik-baik saja. Pilihan yang bagus. Karena semakin mereka turun memasuki terowongan semakin Salma mulai merasa gelisah. Dia tersandung kakinya sendiri dan nyaris jatuh berguling dari tangga. Ikram dengan secepat kilat menahan siku Salma agar dia tidak jatuh.

            “Hati-hati. Kau baik-baik saja?” Tanya laki-laki itu dengan nada penuh perhatian.  

            Salma menganggukkan kepalanya. Ikram kemudian melepaskan pegangannya dari siku Salma ketika dia bisa merasakan bahwa Salma sudah bisa mengembalikan keseimbangannya sendiri.

            Ikram dan Salma kemudian akhirnya tiba di dasar terowongan. Ada beberapa rombongan lain yang berjalan di depan dan di belakang mereka. Mereka sibuk mendengar penjelasan dari tour-guide mereka.

Meski Salma mulai merasa gemetaran di seluruh tubuhnya, tapi sambil berjalan Salma memaksakan dirinya untuk memulai penjelasannya pada Ikram. “Seperti kebanyakan tempat-tempat bersejarah lainnya di kota-kota lain di Indonesia, terowongan ini dibangun sebagai betuk pertahanan Tentara Jepang. Mereka mengorbankan banyak orang untuk pembangunan terowongan ini dan juga…” Tiba-tiba saja dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

Hal terakhir yang diingatnya adalah suara Ikram yang bergema di terowongan memanggil namanya.

***

            Sambil menunggu Salma sadar, Ikram memutuskan untuk melakukan panggilan suara pada Nabil. Dia ingin bertanya beberapa hal pada kakaknya. Nabil seorang dokter psikiater, dia pasti tahu hal-hal yang harus dilakukan ketika berada di situasi sekarang.

            “Halo, kak.” Kata Ikram dengan suara rendah. Dia takut membangunkan Salma yang sedang terlelap di ranjang bangsal rumah sakit.

            “….”

            “Aku minta maaf baru menelepon hari ini. Aku sudah sampai dan aku sudah memulai jalan-jalanku hahaha.”

            “….”

            “Hanya aku sendirian. Aku memang mengambil paket tour yang privat. Kak, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Saat ini aku sedang ada di rumah sakit.”

            “….”

            “Apa? Bukan. Bukan aku yang sakit. Ceritanya agak panjang tapi aku akan memberitahumu nanti. Sekarang aku ingin bertanya. Apa yang harus aku lakukan pada orang yang memiliki fobia gelap? maksudku apa yang harus aku lakukan ketika gejala mereka kambuh?”

            “….”

            “Terapi? Aku tidak yakin apakah dia sudah menerima terapi apapun. Aku akan bertanya padanya nanti. Baiklah kak, sampaikan salamku untuk ayah dan ibu. Aku akan meneleponmu lagi nanti. Sampai jumpa.”

            Ikram menutup teleponnya dan menghela napasnya dengan pelan sambil menatap pada Salma yang masih belum sadar dari pingsannya. Harusnya dia sudah menyadarinya bahwa ada yang salah dari gadis itu tadi. Salma tampak pucat saat memasuki pintu terowongan tadi. Puncaknya adalah ketika gadis itu hampir jatuh terguling dari anak tangga. Ikram bisa melihat bulir-bulir keringat membasahi kening gadis itu padahal cuaca hari itu tidak begitu panas. Hingga kemudian Salma berakhir dengan tidak sadarkan diri.

Untunglah ketika Salma pingsan beberapa orang yang berada di sekitar mereka segera membantu Ikram untuk membawa Salma keluar terowongan menggunakan sebuah tandu yang entah bagaimana memang sudah disiapkan di dalam terowongan itu. Beberapa petugas penjaga terowongan menjelaskan pada Ikram dengan Bahasa Inggris yang patah-patah bahwa Salma hanya pingsan dan dia akan segera sadar. Tapi Ikram bersikeras dan meminta mereka untuk mengantarkannya dan Salma ke rumah sakit terdekat. Bukan apa-apa, Ikram hanya tidak ingin mengambil resiko kalau-kalau gadis itu memang memiliki suatu penyakit yang serius. Setelah berpikir dan melihat gejala yang dialami oleh Salma, Ikram sampai pada satu kesimpulan. Salma memiliki fobia.

            Sepuluh menit berlalu dan Ikram hanya duduk terdiam di samping ranjang Salma. Sesekali dia membalas senyuman para perawat yang berlalu lalang. Tanpa sengaja dia melihat kedua kelopak mata Salma bergerak-gerak. Menandakan bahwa gadis itu sudah sadar dari pingsannya.

            Salma tampak mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan pandangannya.

            “Kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?” Tanya Ikram khawatir.

            Salma mengernyitkan dahinya. Dia berusaha duduk dengan menyandar ke dinding. “Aku baik-baik saja. Maafkan aku sudah merepotkanmu. Aku sudah merusak jalan-jalanmu.” Katanya dengan nada penuh rasa bersalah.

            “Hei, tidak apa-apa. Itu tidak penting sekarang. Yang penting adalah kau baik-baik saja. Salma, kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau fobia gelap? Aku pasti tidak akan memintamu untuk masuk ke dalam terowongan dan kau tidak akan berakhir di rumah sakit.”

            “Aku tidak apa-apa. Maksudku aku sedang bekerja dan kau adalah tamuku. Aku tidak bisa menolak permintaanmu hanya karena aku tidak bisa. Kau sudah membayar banyak untuk menggunakan jasa kami.”

            “Ya Tuhan, Salma. Kau pikir aku peduli tentang uang itu? Apa kau sadar hal itu bisa mencelakakan dirimu sendiri?  Kalau aku tidak memegangimu ketika kau hampir jatuh dari anak tangga itu kau pasti sudah berakhir dengan patah tulang ketika sampai di bawah. Aku tidak bisa membayangkan hal itu.”

            Salma meringis mendengar perkataan Ikram barusan. Jangankan patah tulang, dengan tubuh mungilnya ini dia pasti sudah mati sebelum sampai di dasar terowongan. “Maafkan aku sungguh. Aku sudah merasa lebih baik. Sebagai permintaan maafku padamu karena pelayananku yang buruk, aku akan mentraktirmu sesuatu. Kau pasti akan suka. Ayo.”

            Melihat Salma yang bersiap-siap bangkit dari ranjangnya membuat Ikram hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Salma yang cenderung tomboi dan cuek sangat bertolak belakang dengan Aara yang lembut dan penurut.

            Bisa-bisanya di pertemuan pertama mereka Ikram menganggap Salma mirip dengan Aara.

            Ikram pasti sudah gila karena menyamakan dua orang tersebut. 

 

Bersambung

 

No comments:

Post a Comment