Monday, 27 June 2022

Side Story – Salma

 

Namaku Salma Abdullah. Teman-teman dan orang tuaku biasanya manggil aku Salma, ada yang panggil Alma, ada juga yang panggil Ama. Umurku dua puluh tiga tahun. Aku lulusan jurusan Sejarah dan baru aja wisuda satu bulan yang lalu. Sekarang lagi menganggur. Kalau kata adikku, kerjaanku cuma ngabisin beras di rumah dan berkontribusi untuk memenuhi septic tank. Emang gak ada akhlak itu bocah. Sebenarnya aku gak menganggur-nganggur banget. Aku lagi nungguin proses seleksi beasiswa untuk melanjutkan S2 aku di Swiss. Kenapa pilih Swiss? Soalnya waktu SD aku sering beli cokelat yang mereknya…yah kalian tahu lah yang ada gambar Pengunungan Alpen-nya. Terus pas liat itu aku jadi ‘wow cantik banget. Pengen deh ke sana.’ Begitu ceritanya.

Sambil menunggu hasil seleksi aku memutuskan untuk membantu pekerjaan ayahku. Baba. Begitu aku dan adikku memanggil ayahku. Baba memiliki satu kantor agen travel yang melayani tour di dalam dan di luar negeri. Tamu-tamu yang menggunakan jasa pelayanan dari kantor baba bisa datang dari berbagai kalangan. Ada yang berasal dari luar negeri ada pula yang berasal dari dalam negeri alias turis domestik. Sebenarnya menjadi tour guide bukanlah hal yang baru untukku. Dari kecil baba selalu membawaku untuk ikut beliau ketika sedang membawa tamu untuk tour. Jadi bisa dibilang aku belajar dari memperhatikan apa yang dilakukan oleh baba. Oh ya keluargaku terdiri dari 4 orang. Aku, baba, umma, dan adik laki-lakiku yang berusia dua puluh satu tahun. Namanya Luqman. Usia kami memang hanya berjarak dua tahun. Kelakuannya itu Subhanallah, usil sekali. Untungnya dia sekolah di pondok pesantren di Jakarta. Kalau dia gak di rumah aku jadi anak tunggal penguasa rumah hahaha. Kadang kangen sih tapi kalau dia udah di rumah pengen ditabok saking nyebelinnya.

            Balik lagi ke cerita tentang aku yang jadi tour guide. Sore itu waktu aku lagi nongkrong di depan tv, baba telepon aku lewat whatsapp call dari Dubai.

            “Assalamualaikum, kak.”

            “Waalaikumsalam, ba.”

            “Lagi apa?”

            “Lagi nonton.”

            “Kak, dua hari yang lalu ada tamu dari Jerman yang ambil paket tour di SumBar sama kita. Malam ini dia udah terbang dari Berlin ke Kuala Lumpur. Besok siang dia akan terbang ke Padang. Kakak bisa kan jadi tour guide-nya?”

            “Kok tiba-tiba banget sih, ba? Kan baba bisa kabarin kakak kemarin.”

            “Maaf kak, kemarin baba sibuk sekali. Baru sempat menelepon sekarang. Baba juga lupa ngasih tau ke umma. Nanti malam telepon Om Evan ya. Besok kakak berangkat sama Om Evan. Nanti detail perjalanannya baba kirim ke email kakak ya.”

 Om Evan itu adalah abang kandung dari ummaku. Om Evan memang bekerja untuk keluargaku. Beliau juga sering menjadi tour guide kalau memang dibutuhkan. Kadang-kadang juga menjadi supir untuk tamu yang ingin melakukan private tour. Biasanya tamunya berjumlah dua sampai tiga orang.

            “Iya, ba.” Aku menggaruk dahiku yang tidak terasa gatal. Permintaan dari baba barusan terlalu tiba-tiba. Walaupun terlihat mudah, tapi sebenarnya jadi tour guide itu gak mudah. Butuh persiapan fisik dan mental juga.

            Keesokan harinya aku sama Om Evan bener-bener berangkat pagi-pagi buta dari rumah aku di Bukittinggi karena kami takut jalanan akan macet apalagi hari ini Hari Minggu. Perjalanan dari Bukittinggi ke Padang itu memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Itupun kalau gak macet. Buat kalian yang nanya kenapa kami harus pergi ke Padang dulu, itu karena bandara internasional di Sumatera Barat cuma ada di Kota Padang.

            Setibanya di bandara, aku langsung pergi ke pintu kedatangan internasional sambil membawa kertas yang bertuliskan nama dari tamuku. Dari namanya sih sepertinya tamunya Muslim. Agak aneh sebenarnya karena sejauh ini tamu-tamu kami yang berasal dari Eropa biasanya beragama Non-Muslim. Tamu yang ini sudah pasti berbeda dari tamu yang lainnya. Semoga bapak tua ini adalah orang yang sangat baik hati dan ramah.

            Hari ini bandara ramai sekali. Mungkin karena memang sedang musim liburan. Aku terus melihat ke arah pintu masuk sambil mengangkat kertas bertuliskan nama tamuku tinggi-tinggi. Berharap tamuku itu melihat namanya. Capek juga berdiri sambil ngangkat tangan tinggi-tinggi. Pegel banget.

            Hey.” Tiba-tiba aku mendengar ada suara berat yang menyapaku dari arah samping. Aku berbalik untuk melihat orang yang menyapaku dan seketika aku langsung berkata dalam hati, Ya Allah, semoga jodoh. Ganteng banget! Makhluk se-ganteng ini barusan menyapaku? Ada apakah gerangan? Tolong jangan bilang kalau aku lagi masuk acara tv dan di-prank? Mana? Mana kamera tv-nya? Apa jangan-jangan…?

            “Apakah Anda Mister Ikram?” Tanyaku. Aku mencoba mengembalikan logikaku yang sempat terbang entah kemana.

            “Ya, itu saya.” Abang ganteng di depanku ini tersenyum. Senyumnya manis banget, mengalihkan duniaku. Bikin jantung aku cenat cenut. Aku hampir menampar pipiku sendiri untuk menyadarkan diriku. Pikiranku sudah melantur kemana-mana. Astagfirullah. Setan pergilah! Pergi! Jangan ganggu Salma huhuhu.

            “Nama saya Salma. Selamat datang di Kota Padang.” Aku mencoba bersikap profesional walaupun rasanya salah tingkah banget.

Si abang ganteng melamun. Bisa-bisanya dia melamun di tengah keramaian seperti ini. “Saya akan menjadi tour-guide Anda selama Anda berada di Sumatera Barat. Sebentar, saya akan mencari supir saya untuk meminta bantuan untuk mengangkat barang Anda.” Ujarku. Aku kemudian berlari untuk mencari Om Evan yang lagi nunggu di parkiran mobil.

            Jujur, aku masih gak percaya kalau aku akan menjadi guide untuk abang ganteng tadi. Sepanjang jalan menuju bandara aku selalu berpikir kalau tamu yang akan datang adalah bapak-bapak berusia sekitar lima puluh tahunan berkepala botak dan berperut buncit. Tapi nyatanya dia masih muda banget, dia juga tinggi sampai leherku rasanya pegel banget karena harus terus mendongak. Dia yang ketinggian atau aku yang kependekan ya?

Allah memang gak salah dalam mengirimkan calon jodohku, eh?

***

            “Bagaimana penerbangan Anda dari Kuala Lumpur? Penerbangannya sangat singkat, bukan?” tanyaku mencoba berbasa-basi saat kami akhirnya sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan meninggalkan bandara. Aku duduk di kursi depan di samping Om Evan. Sementara abang yang bernama Ikram itu duduk di kursi penumpang.

            “Iya, singkat sekali.” Balas Ikram. Singkat banget balasannya. Mungkin dia lelah karena terbang jauh. Keep positive thinking, Salma cantik.

            “Ini namanya Pak Evan.” Aku menoleh ke arah Ikram sambil memperkenalkan Om Evan padanya. 

            “Halo, Mister Ikram. Saya akan menjadi supir Anda selama Anda berada di sini.” Om Evan memperkenalkan dirinya dengan ramah pada Ikram.

            “Terima kasih.” Balas Ikram sambil tersenyum.

Abang ini suka senyum. Sepertinya dia sangat mempraktekkan ucapan ‘senyum itu adalah sedekah’ dengan sangat baik.

            “Sekarang sudah pukul sebelas. Kita akan ke pusat kota untuk makan siang dan kemudian shalat dzuhur di masjid. Sekarang Anda boleh beristirahat. Saya akan membangunkan Anda nanti kalau kita sudah sampai.” Ujarku sambil melirik jam tanganku. 

***

            Di tempat biasa aja, Om. Soalnya…” Aku minta Om Evan untuk pergi ke rumah makan yang biasanya kami datangi saat membawa tamu. Saat berbicara dengan Om Evan aku gak sengaja mendengar gerakan dari arah kursi penumpang di belakang. Ternyata itu Ikram yang sudah bangun dari tidurnya.

            “Oh, rupanya Anda sudah bangun. Kita akan segera sampai di rumah makan.” Ujarku sambil melirik dia yang sedang sibuk mengusap kedua matanya.

            Ikram menganggukkan kepalanya. “Tampaknya di luar panas sekali.” Ujarnya saat melirik ke arah luar jendela.

            Aku terkekeh pelan. Ya, aku paham dengan apa yang dia maksudkan. “Kota Padang memang termasuk kota yang memiliki udara panas karena terletak di tepi laut. Tapi jangan khawatir, kita tidak akan lama di sini. Saya akan membawa Anda untuk mengunjungi kota yang sejuk. Nah, sekarang kita sudah sampai.”

Mobil yang kami tumpangi berhenti di depan pintu rumah makan. Aku turun duluan karena aku harus segera memeriksa tempat yang sudah aku booking sejak beberapa hari yang lalu. Kalau misalnya masih ada yang kotor, pelayan rumah makannya bisa langsung membersihkan lagi tempatnya.

Siang ini rumah makan ramai banget. Wajar aja sih. Tapi abang bule yang tengah berdiri di sampingku ini kelihatan agak kurang nyaman dengan situasi ini. Dari tadi kepalanya tidak berhenti memutar ke kanan dan ke kiri untuk melihat sekelilingnya.

“Sekarang sedang jam makan siang. Jadi tidak heran kalau rumah makan ini sangat ramai dikunjungi. Ditambah lagi rumah makan ini sangat terkenal di antara rumah makan yang lain. Para pengunjung dari bandara biasanya mampir ke sini. Tapi jangan khawatir, saya sudah memesankan sebuah tempat untuk Anda.” Ujarku berusaha menenangkannya kalau-kalau dia takut kami tidak mendapat tempat untuk makan.

            Seorang pelayan menyambut kedatangan kami di dalam restoran tersebut kemudian membawa kami ke sebuah tempat yang agak jauh dari keramaian. Tepatnya ke sebuah ruangan ber-AC. Sepertinya ruangan ini dikhususkan untuk tamu VIP. Setelah mengantarkan kami, si pelayan kemudian meninggalkan ruangan tersebut. Abang Ikram tidak langsung duduk di kursinya tapi dia memandang sekelilingnya. Aku semakin bingung dengan tingkahnya. Jangan-jangan dia gak suka sama tempat makannya.

            “Apakah Anda tidak menyukai tempatnya?” Tanyaku akhirnya. Kalau dia memang gak suka makan di sini mau gak mau aku harus cari restoran yang lain.

            “Oh, tidak. Tempat ini sangat nyaman. Hanya saja, aku berpikir untuk mencoba makan di tempat yang sama seperti pengunjung lain.”

            Aku heran sama kalimat dia barusan. Masa dia beneran mau makan di tempat lesehan? “Apakah Anda tidak apa-apa dengan keramaian?” tanyaku untuk memastikan.

            Ikram menganggukkan kepalanya dengan pasti. Dia tersenyum lebar. “Tidak apa-apa. Sungguh. Aku sudah jauh-jauh datang ke sini dan aku tidak ingin melewatkan momen untuk merasakan dan menikmati kehidupan seperti warga lokal.”

            Wah keren juga abang ini. Sama sekali gak peduli sama image-nya. Gak gengsian. “Kalau begitu baiklah. Silahkan berjalan duluan. Anda bisa memberitahu saya di mana tempat yang nyaman bagi Anda untuk makan.”

            Ikram kemudian berjalan keluar dari ruangan duluan. Dia kemudian menoleh, mencoba mencari-cari tempat yang kira-kira nyaman baginya untuk makan. “Di sini saja.” Pilihannya jatuh pada sebuah tempat makan lesehan di sebuah saung yang baru ditinggalkan oleh beberapa pengunjung.

Aku kemudian memanggil seorang pelayan dan memintanya untuk membersihkan tempat itu, karena masih ada piring-piring dan gelas milik pengunjung sebelumnya. “Kak, tolong bersihkan tempatnya sebersih-bersihnya ya. Saya gak mau nanti tamu saya merasa gak nyaman kalau tempatnya gak bersih.” Ujarku pada pelayan. Aku gak mauu kalau sampai Bang Ikram gak selera makan karena liat remah-remah sisa pengunjung sebelumnya.

            “Anda harus menunggu sebentar karena tempat ini harus dibersihkan dulu.”” Ujarku.

            “Baiklah, tidak masalah.” Ujar Ikram sambil tersenyum.

            Beberapa saat kemudian si pelayan sudah selesai membersihkan tempat itu. Ikram mengambil posisi yang nyaman untuknya sambil menyandarkan punggungnya. Kedua kakinya dia luruskan di bawah meja. Dia tinggi banget sih. Aku akhirnya milih duduk di ujung meja biar dia bisa bebas meluruskan kaki.

            Tidak lama kemudian, beberapa pelayan datang untuk mengantarkan hidangan. Pertama-tama, mereka meletakkan tiga buah piring makan dan semangkuk besar nasi putih. Kemudian, mereka mulai menghidangkan satu persatu lauk pauk khas rumah makan Padang yang ditata rapi di piring keramik putih berukuran kecil. Sebenarnya aku berusaha buat nahan diri untuk gak ketawa liat reaksi Ikram yang hanya bisa terpana melihat betapa banyaknya hidangan yang ada di atas meja makan sekarang.

            “Apakah kita akan menghabiskan seluruh hidangan ini?” Tanyanya dengan raut wajah polos ketika para pelayan sudah selesai menghidangkan berbagai macam lauk pauk tersebut.

“Tidak, tentu saja tidak. Anda bisa memilih makanan pendamping yang mana yang ingin Anda nikmati bersama dengan nasi putih. Kita hanya akan membayar untuk apa yang kita sentuh.” Balasku berusaha tenang. Padahal dalam hati rasanya mau ketawa habis-habisan karena liat muka polosnya waktu nanya.

            “Oh begitu. Aku kira kita harus menghabiskan semuanya. Ini banyak sekali. Apa nama makanannya? Dan bagaimana cara memakannya?” Tanya Ikram lagi. Dia masih cukup terpana dengan betapa banyaknya makanan di atas meja ini sekarang.

            “Ini namanya Nasi Padang. Hidangan yang paling terkenal di seluruh Indonesia bahkan hingga mancanegara. Saya akan menunjukkan cara memakannya pada Anda. Sebentar.” Aku mengambil piring miliknya dan kemudian menuangkan sedikit air minum dari teko, kemudian menggoyang-goyangkan piring itu sehingga air membasahi seluruh permukaan piring. Setelah selesai, aku kemudian membuang air tersebut di mangkuk kecil untuk mencuci tangan milikku dan mengambil tisu untuk mengeringkan piring Ikram sebelum akhirnya menyendok nasi dari mangkuk besar itu. Ini adalah salah satu ajaran umma yang paling aku ingat. Umma aku bisa dibilang sangat ketat untuk urusan kebersihan makanan.

            “Yang ini ayam bakar, yang ini ayam balado yang dimasak dengan banyak cabe. Rasanya pedas. Yang ini ayam gulai dan ayam bumbu. Kemudian ada ikan, rendang…” Aku mulai menjelaskan satu persatu lauk pauk di depan kami.

            “Anda bisa memilih makanan manapun yang Anda inginkan.” Ujarku setelah selesai menjelaskan semuanya.

            Ikram memperhatikan makanan di depannya satu persatu. Dia sungguh bingung ingin memilih yang mana. Tatapannya kemudian jatuh pada hidangan berwarna hitam yang agak terlihat aneh baginya. “Apa nama hidangan ini tadi?” Tanyanya padaku.

            Aku kemudian melirik ke arah piring yang ditunjuk oleh Ikram. “Oh, ini namanya rendang. Makanan terlezat nomor satu di dunia yang masuk dalam daftar UNESCO. Ini adalah rendang daging. Rendang berbahan dasar santan, cabe, dan rempah-rempah lainnya yang dimasak dalam waktu yang lama. Semakin kering rendang, semakin tahan lama untuk disimpan. Sebentar.” Kataku. Aku kemudian mengambil dua buah sendok dan mulai mengelapnya dengan tisu. Satu sendok diletakkan di piring rendang dan sendok yang lainnya di piring Ikram.

            Ikram kemudian menyendok rendang itu dengan hati-hati dan meletakkannya di atas nasinya. Setelah membaca basmalah, dia segera menyendok nasi beserta bumbu rendangnya. Aku menikmati ekspresi takjubnya saat mencicipi rendangnya. Memangnya ada orang yang bisa menolak pesona rasa rendang? Hehehe.

            Aku sendiri makan dengan lauk ayam bakar dan sayur tauge. Selama makan, Ikram banyak bertanya hal-hal kecil. Misalnya seperti nama-nama hidangan di depan kami, atau bumbu apa kira-kira yang digunakan untuk memasak lauk pauk tersebut.

            Kami pun menyudahi acara makan siang dengan Ikram yang selesai menyeruput jus alpukat yang baru pertama kali dicobanya seumur hidupnya. Aku beneran syok waktu dia bilang ini kali pertama dia nyobain jus alpukat. Memangnya di Jerman gak ada buah alpukat ya?

Setelah dari rumah makan, kami kemudian pergi ke masjid untuk menunaikan shalat dzuhur. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi air terjun di Kawasan Lembah Anai. Di sana kami menghabiskan waktu sekitar setengah jam karena Ikram masih ingin menikmati bermain dengan air terjun yang dingin dan dia juga sibuk mengambil foto-foto. Sepertinya dia itu seorang fotographer. Cara dia memegang kamera sangat pro dan sesekali dia mendecakkan lidahnya kalau gambar yang dia ambil tidak sesuai dengan keinginannya. Seorang fotographer itukan hobi berburu pemandangan bagus untuk difoto. Mungkin itu alasan dia mau jauh-jauh datang ke sini dari Jerman.

Waktu itu aku memang berpikir begitu. Tapi dikemudian hari aku baru tahu kalau alasannya bahkan jauh berbeda dari yang aku bayangkan.

 

No comments:

Post a Comment