“Kau mau ke mana? Perjalanan bisnis?”
Ikram menghentikan gerakan tangannya yang sedang sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam sebuah koper berukuran besar. Ia melihat Nabil masuk ke dalam kamarnya sambil memegang segelas susu putih hangat. Susu hangat itu pasti untuk Aara. Membayangkan hal itu saja cukup membuat wajah Ikram berubah murung.
“Aku akan pergi berlibur. Aku sudah mengatakannya pada ayah.” Katanya sambil melanjutkan mengambil pakaiannya dari dalam walk in closet besar di kamarnya.
Nabil mendekatinya dan duduk di tepi ranjang Ikram. “Kau membawa banyak sekali pakaian. Apakah kau akan pergi untuk waktu yang cukup lama?”
“Yah sepertinya begitu. Aku akan…”
“Kak, kakak akan pergi ke mana? Ayah bilang kakak akan pergi ke luar negeri. Aku ikut!” Tiba-tiba saja Jihan, adik perempuan mereka masuk dengan terburu-buru ke dalam kamar Ikram. Nabil dan Ikram tersenyum geli melihat penampilan adik perempuan mereka yang hanya menggunakan piyama tidur bermotifkan doraemon berdiri dengan wajah cemberut di antara mereka.
“Tidak bisa, sweety. Aku akan pergi selama dua minggu. Kau kan harus kuliah.” Balas Ikram.
Mendengar itu Jihan semakin cemberut. “Kau kan selalu berkata bahwa aku bisa ikut denganmu kemana saja. Oh ayolah, kak. Aku ingin ikut. Memangnya kau akan pergi ke mana?” Tanyanya dengan nada menuntut pada Ikram.
Kali ini Ikram menghentikan gerakannya dan mengambil posisi duduk di samping kakak tertuanya, Nabil. “Tidak sekarang, Jihan. Aku akan pergi ke Indonesia. Perjalanannya sangat jauh. Aku akan pergi tanpa ditemani oleh Ian dan pengawal lainnya. Aku janji aku akan membawakanmu oleh-oleh dari sana nanti.”
“Tidak mau. Aku ingin ikut.” Ujar Jihan dengan keras kepala.
“Sweetheart, jangan begitu. Biarkan Ikram pergi sendiri kali ini. Aku akan mengajakmu ke tempat yang kau inginkan nanti. Sekarang waktunya kau tidur. Kembalilah ke kamarmu.” Nabil berkata dengan nada tegas. Mau tidak mau Jihan mengikuti perintah kakak tertuanya dan kembali ke kamarnya dengan wajah cemberut.
“Kau akan pergi ke luar negeri, tanpa pengawal? Ikram, itu sangat berisiko. Sebagai petinggi perusahaan, bahaya akan selalu mengancam dirimu di mana-mana.” Ujar Nabil saat hanya tinggal mereka berdua di kamar itu.
“Aku menyadari itu, kak. Tapi hanya kali ini, hanya kali ini aku ingin pergi sendirian. Aku memohon pada ayah untuk mengizinkanku pergi tanpa dikawal. Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku sendiri.” Balas Ikram dengan nada melamun. Pandangannya kosong ke arah depan.
Nabil menyadari ekspresi mendung di wajah Ikram. Sepertinya Ikram tengah mengalami masa sulit sekarang dan adiknya itu tampaknya memang benar-benar membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.
“Baiklah, asalkan kau bisa menjaga dirimu sendiri.” Nabil bangkit dari duduknya dan menepuk pelan Pundak Ikram. “Jangan membuat ibu dan ayah menjadi khawatir karenamu. Dan pulanglah sebelum anakku lahir. Kau tidak ingin melihat keponakan pertamamu?” Tanya Nabil sambil tersenyum.
Melihat wajah bahagia kakaknya, Ikram ikut tersenyum, “Akan aku usahakan.” Balasnya dengan nada riang yang dipaksakan.
***
“Kau akan pergi sekarang?” Ayza bertanya saat dia melihat Ikram menurunkan kopernya dari anak tangga.
“Iya, ibu. Pesawatku ke Kuala Lumpur akan berangkat pagi ini.” Balas Ikram sambil merapikan ransel yang tengah dia sandang di punggungnya.
“Kau yakin tidak akan berangkat dengan pesawat kita?” Tanya Fahad yang sedang duduk menikmati sarapannya di meja makan.
“Tidak apa-apa, ayah. Lagipula untuk penerbangan kali ini aku sudah mengambil kelas bisnis. Ibu, aku tidak bisa ikut sarapan bersama kalian. Aku harus segera berangkat ke bandara sekarang juga.” Ikram segera mendekati ibu dan ayahnya untuk menyalami dan memeluk kedua orang tuanya. Ia juga memeluk Nabil dan Jihan sebelum kemudian berjalan ke arah koper besarnya.
“Aara, ehm maksudku kakak ipar, aku pergi dulu.” Ujar Ikram pada Aara yang tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya di meja makan.
“Tunggu dulu.” Aara bangkit dari kursinya dengan berhati-hati dan berjalan dengan agak susah payah ke arah counter di dapur. Perutnya yang sudah sangat besar karena kehamilannya yang semakin mendekati waktu kelahiran membuat langkahnya menjadi sangat lamban.
Ikram hanya memperhatikan gerakan Aara dengan wajah tanpa ekspresi bahkan ketika dia melihat Aara datang mendekat ke arahnya sambil membawa bungkusan berukuran kecil. Dia menyerahkan bungkusan itu pada Ikram sambil tersenyum kecil.
“Aku membuatnya untuk kau makan di perjalananmu.” Ujarnya.
Ikram menerima bungkusan itu dan mengintip isinya. Ada sekitar tujuh cookies cokelat berukuran sedang di dalamnya. Seketika dia menghembuskan napas pelan. Aara pasti sudah memaksakan dirinya untuk membuatkan ini untuk Ikram. “Terima kasih kakak ipar. Akan aku makan nanti.” Ujarnya dengan nada tulus.
Setelah berpamitan untuk terakhir kalinya pada keluarganya Ikram segera menarik kopernya menuju mobil yang akan mengantarnya ke bandara.
Semoga setelah kembali dari perjalanannya perasaan cinta ini akan hilang begitu saja dan dia mampu berdamai dengan kenyataan.
No comments:
Post a Comment