Monday, 27 June 2022

Satu


            “Aku akan segera pulang, ibu. Segera setelah pekerjaanku selesai.” Setelah mengucapkan beberapa kata pada ibunya, Ikram memutuskan sambungan teleponnya. Ibunya memintanya pulang ke rumah untuk makan malam bersama. Ikram menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursinya dan memijat dahinya yang terasa berdenyut. Entah sejak kapan Ikram merasa bahwa pulang ke rumah menjadi sangat berat untuknya. Mungkin lebih tepatnya sejak Aara, kakak iparnya tengah mengandung anak pertamanya dengan Nabil, kakak laki-laki Ikram. Sejak mengetahui bahwa akan memiliki cucu pertama, ibu mereka, Ayza selalu memaksa Aara untuk tinggal di rumah mereka di Berlin dengan alasan Ayza ingin selalu bisa memantau keadaan Aara. Padahal sejak menikah Nabil memang memutuskan untuk pindah ke Berlin dan membeli sebuah rumah untuk keluarganya tidak jauh dari rumah orang tuanya.

            Kalau saja keadaannya berbeda, Ikram seharusnya juga turut bersuka cita untuk menyambut kelahiran keponakan pertamanya. Tapi nyatanya tidak. Sampai saat ini rasanya sulit sekali menerima kenyataan bahwa Aara adalah kakak iparnya sekarang. Ikram telah jatuh cinta pada Aara sejak pandangan pertama. Love at first sight. Begitu orang-orang menyebutnya. Sejak lima tahun terakhir Ikram selalu disibukkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan perusahaannya. Kakaknya, Nabil telah memilih jalan hidupnya sendiri untuk menjadi seorang dokter psikiater. Sehingga mau tidak mau urusan perusahaan diturunkan ayah mereka pada Ikram. Ikram tidak pernah mau mengecewakan kedua orang tuanya. Oleh karena itu dia mengesampingkan cita-citanya untuk menjadi seorang fotografer handal. Sekarang dia hanya menekuni fotografi sebagai hobi di sela-sela kesibukannya. Sehingga dia nyaris tidak memiliki waktu untuk jatuh cinta dan menikah. Tapi sejak melihat Aara untuk pertama kalinya di aula gedung universitas itu, Ikram menyadarinya bahwa Aara telah berhasil mengalihkan dunianya. Ikram sempat berpikir bahwa dia akan mengenalkan Aara pada keluarganya dan dia tidak keberatan jika ibunya memintanya untuk menikah saat itu juga. Namun takdir berkata lain. Ikram dan kakaknya mencintai gadis yang sama. Yah, sebenarnya itu bukanlah suatu hal yang mengejutkan mengingat bagaima dekatnya hubungan persaudaraan mereka sejak kecil. Sehingga tidak heran mereka memiliki selera yang sama bahkan soal kriteria pasangan hidup.

            Ikram sangat menyayangi Nabil karena Nabil selalu bersikap baik dan mengalah padanya sejak kecil. Itulah yang membuat Ikram pun mengalah untuk tidak mendekati Aara. Ikram sungguh tidak ingin merusak persaudaraannya dengan kakaknya hanya karena seorang gadis. Karena itu dia lebih memilih untuk menanggung rasa patah hatinya dan mengubur perasaanya dalam-dalam.

Orang bilang cinta pertama adalah cinta yang paling sulit untuk dilupakan. Itu benar. Ikram sudah membuktikannya. Apalagi kalau cinta pertama kita adalah alasan terbesar kita untuk patah hati. Rasanya sangat menyakitkan bagi Ikram saat dia melihat betapa bahagianya hubungan Nabil dan istrinya. Lagi-lagi Ikram harus menelan sendiri kepahitan dari patah hati dan cemburunya di dalam hatinya. Dia menyembunyikannya dengan selalu bersikap riang padahal rasanya memang benar-benar menyakitkan. Ikram merasa tidak sanggup untuk menahan perasannya. Dia kemudian memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan tinggal di salah satu apartemen milik keluarganya. Dibanyak kesempatan, Ikram selalu berusaha untuk mengurangi intensitas pertemuannya dengan Nabil dan istrinya. Bukan apa-apa, hanya saja Ikram merasa bahwa dia membutuhkan tempat dan waktu bagi dirinya sendiri untuk kembali menata hatinya. Jatuh cinta ternyata rasanya sangat menyiksa. Mungkin setelah ini butuh waktu lama lagi bagi Ikram untuk kembali jatuh cinta pada seseorang. Pada siapa dan kapan dia akan kembali jatuh cinta. Entahlah. Hanya Allah yang tahu jawabannya.

***

            “Selamat datang.”

            Ikram nyaris mundur dan memutar balik tubuhnya untuk kembali ke mobilnya saat mendapati siapa yang membukakan pintu untuknya.

            Aara, kakak iparnya.

Ikram hanya termangu di depan pintu tanpa berniat masuk ke dalam rumah orang tuanya. Dadanya kembali terasa berat dan nyeri. Hal yang selalu terjadi setiap kali dia berhadapan dengan Aara.

Mengapa bukan aku? Mengapa harus kakakku? Pertanyaan itulah yang selama ini berputar-putar di dalam benaknya setiap kali berhadapan dengan kakak iparnya. Terlebih saat rasa cemburu tengah memenuhi dadanya.

            “Kenapa diam? Ayo masuk. Kami semua sudah menunggumu di dalam.” Ujar Aara sambil tersenyum.

            “Siapa, sayang?” Itu suara Nabil, kakak Ikram. Dia tiba-tiba muncul dari balik punggung istrinya.

            “Apa yang kau lakukan di sana? Ayo masuk. Ayah dan ibu sudah menunggumu dari tadi.” Nabil mendorong pelan punggung Ikram dan menutup pintu depan. Aara sudah duluan masuk ke ruang makan. Ikram menghela napas panjang sambil memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. Dia tidak ingin keluarganya mencurigainya bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya.

            Ikram kemudian menyalami tangan ayahnya dan memberikan sebuah kecupan di dahi ibunya. “Maaf aku datang terlambat. Ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan tadi.” Katanya dengan nada riang sambil menarik kursinya dan duduk di samping Jihan yang sedang sibuk dengan ponselnya.

Pekerjaan penting itu hanyalah sebuah alasan. Ikram sudah menyelesaikan pekerjaannya sejak pukul enam sore. Tapi dia memilih mengulur-ngulur waktunya untuk pulang ke rumah.

            “Kau datang lama sekali, kak. Aku hampir mati kelaparan.”

            Ikram tertawa kecil dan menepuk pelan punggung adik perempuannya sambil menggumamkan permintaan maafnya karena telah datang terlambat. Mereka semua kemudian memulai acara makan malam itu dengan tenang.

            “Kau akan menginap di sini malam ini?” Tanya Nabil pada Ikram saat mereka semua menyudahi acara makan malam dan mengobrol santai di meja makan.

            Ikram yang sedari tadi hanya terdiam sambil memainkan sendoknya kemudian mengangkat kepalanya saat mendengar suara Nabil. “Sepertinya tidak. Masih ada pekerjaan penting yang harus aku kerjakan. Aku akan pulang ke apartemenku.” Katanya dengan nada santai. Berada di rumah ini, di satu ruangan yang sama dengan kakak iparnya cukup membuatnya merasa sesak.

            “Menginaplah untuk semalam, Nak. Kau sudah sangat jarang pulang ke rumah ini. Ibu tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja kau berubah menjadi sangat sibuk dan jauh dari kami.” Ayza menatap sedih ke arah Ikram.

Ditatap seperti itu membuat Ikram menjadi merasa bersalah pada ibunya. “Baiklah, aku akan menginap di sini malam ini.” Katanya sambil tersenyum kecil.

            “Kau boleh fokus bekerja tapi perhatikan juga dirimu. Jangan sampai kau mengabaikan kesehatan dirimu sendiri.” Fahad, ayah Ikram yang sedari tadi hanya diam kini bersuara.

            Ikram menganggukkan kepalanya. “Akan aku ingat, Ayah. Terima kasih.”

            “Kak, ibu bilang dia akan menjodohkanmu dengan anak kenalannya.” Ujar Jihan. Mendengar itu Ikram memutar kepalanya ke arah ibunya dan menatap perempuan yang telah melahirkannya itu dengan pandangan bertanya.

            Ayza berdehem salah tingkah. “Ya, ibu tidak akan melakukannya sekarang. Kita bisa melakukannya nanti. Tapi kau harus bertemu dengan gadis itu. Aku sudah melihat fotonya. Dia sangat cantik dan terlihat cocok denganmu. Kau pasti akan menyukainya nanti.”

            Ikram mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, merasa lelah dengan pembicaraan ini. Bukan sekali dua kali ibunya mencoba mengatur perjodohan untuknya. Sejak Nabil menikah, ibunya benar-benar mulai gencar untuk menyuruhnya menikah. Padahal, Ikram sampai sekarang masih belum tertarik dengan gadis manapun. Dia sedang berada dalam fase patah hati yang belum bisa disembuhkan. Dia belum siap untuk jatuh cinta lagi.

            “Ibu, tolong berhentilah menjodohkanku. Aku akan menikah. Itu pasti. Tapi bukan sekarang. Ibu tidak perlu repot-repot mencarikan aku gadis manapun karena aku tidak akan tertarik dengan hal itu. Begitu waktunya tiba, aku pasti akan membawa dan mengenalkan gadis pilihanku pada ibu dan ayah nanti. Ibu tenang saja.” Ikram mencoba untuk berkata dengan nada sabar. Pembicaraan ini membuatnya merasa kesal setengah mati. Dia sedang patah hati sekarang dan perempuan yang dia cintai tengah duduk di hadapannya sambil tersenyum mendengarkan godaan yang dilontarkan oleh Nabil dan Jihan padanya. Dua orang itu terus-terusan menggoda Ikram sejak tadi.

            “Aku akan ke kamar duluan dan beristirahat. Aku merasa sangat lelah hari ini.” Ujar Ikram akhirnya. Dia merasa tidak tahan menjadi bahan olokan oleh saudara-saudaranya di meja makan. Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, dia segera naik ke kamarnya yang berada di lantai dua.

Sesampainya di kamarnya, Ikram segera membersihkan diri dan menggunakan pakaian tidurnya yang memang telah tersedia di kamarnya. Ikram kemudian duduk di depan komputernya dan menyalakannya. Selama membersihkan diri tadi, Ikram telah memikirkan sesuatu. Dia ingin pergi berlibur. Dia ingin pergi menjauh untuk sementara dari tempat ini dan tidak berhubungan dengan keluarganya. Tinggal di rumah yang berbeda saja ternyata tidak cukup baginya untuk menenangkan dirinya. Ikram perlu pergi ke suatu tempat untuk menyepi dan menata perasaannya. Dia tidak ingin lepas kendali dan mengacaukan segalanya. Perasaan cinta ini terasa mengakar kuat di dalam hatinya. Tidak mudah dihilangkan begitu saja. Sejak menyadari bahwa dia memiliki perasaan ini dan mengalami patah hati, Ikram merasa bahwa kehidupannya menjadi banyak berubah. Dia tidak lagi memiliki semangat seperti sebelumnya. Waktu-waktu luang yang tersedia dia habiskan untuk melamun.

Karena itu pergi dan menjauh dari kehidupannya yang sekarang mungkin adalah pilihan yang terbaik.

Ikram menatap peta dunia besar yang terbentang dan menempel di dinding kamarnya. Dia selalu menandai peta itu setiap kembali dari melakukan perjalanan dari luar negeri untuk mendapatkan foto-foto yang bagus. Perjalanan bisnis tidak termasuk di dalamnya. Karena yah, dia pergi ke luar negeri untuk bekerja bukan untuk berlibur. Ikram mengusap dagunya sambil memandang satu persatu negara yang ingin dia kunjungi. Sekarang sedang musim dingin. Sama seperti kakaknya, Ikram tidak terlalu menyukai musim dingin. Untuk sekarang dia tidak akan memilih negara yang memiliki empat musim. Sebaiknya memilih negara yang beriklim tropis saja. Mata dan jari telunjuk Ikram kemudian menelusuri peta negara di area Asia Tenggara. Hmm, kemana dia akan pergi? Vietnam? Kamboja? Thailand? Atau Malaysia? Telunjuk Ikram terus bergerak ke bawah ke peta Indonesia yang terbentang sangat luas hingga gerakan tangannya berhenti di peta Pulau Sumatera, Indonesia. Dia mengerutkan dahinya saat melihat tulisan West Sumatera di sana. Rasanya dia pernah melihat nama ini sebelumnya. Tapi di mana?

            Masih mencoba berusaha menggali ingatannya, Ikram membuka riwayat pencariannya di internet. Dia sangat jarang menggunakan komputer ini, jadi riwayat pencariannya tidak terlalu banyak. Oh, benar saja. Dia menemukannya. Ikram pernah menonton video Youtube di sini dan waktu itu dia tidak sengaja menonton video iklan yang mempromosikan salah satu provinsi di Indonesia itu karena video itu muncul begitu saja di berandanya. Dia memutuskan untuk menonton sekali lagi video itu. Provinsi ini terlihat menarik perhatiannya. Banyak pemandangan alam yang bagus di sana. Ikram akan mendapatkan banyak foto-foto bagus di sana nantinya.

Ikram kemudian segera mencari alamat agen travel yang bisa dia gunakan selama tour nya nanti di sana. Dia tidak berencana untuk menaiki pesawat pribadi keluarganya dan ditemani dengan asisten pribadinya. Ikram akan pergi sebagai turis biasa karena dia tidak ingin memancing keributan media.

Penerbangan dari Jerman ke Indonesia akan memakan waktu belasan jam, tapi itu tidak masalah bagi Ikram.

Dia akan pergi menjauh untuk sementara dari keadaan yang menyesakkan ini.

 

Bersambung .

No comments:

Post a Comment